noran jeomja-beullok: 노란 점자 + block (노란 점자블록)
Ubin kuning bertekstur timbul yang ada di trotoar dan lantai stasiun. Ini rambu jalan yang "dibaca" pakai telapak kaki dan tongkat, dibuat untuk teman-teman tunanetra dan low vision.
Kodenya cuma dua. Ubin dengan garis panjang sejajar artinya "ikuti garis ini lurus ke depan". Ubin dengan titik-titik bulat berjajar kayak papan catur artinya "berhenti dulu, cek sekitar". Makanya ubin titik selalu ada sebelum tangga, di depan zebra cross, di belokan, dan di ujung peron kereta bawah tanah. Di Korea, UU soal aksesibilitas transportasi mewajibkan ubin ini dipasang di fasilitas transportasi umum dan trotoar utama.
Asalnya dari Jepang. Penemu Miyake Seiichi melihat temannya pelan-pelan kehilangan penglihatan, lalu mengembangkan ubin ini pakai uangnya sendiri. Yang pertama dipasang Maret 1967 di persimpangan dekat sekolah tunanetra di Okayama. Sejak tahun 1970-an ubin ini menyebar ke seluruh dunia dan sekarang jadi contoh klasik desain universal.
Kenapa kuning? Orang dengan low vision butuh kontras yang kuat dengan lantai di sekitarnya, dan kuning paling mencolok, jadi standar internasionalnya kuning. Ada juga tempat yang pasang warna abu-abu atau motif marmer biar kelihatan lebih estetik, padahal justru jadi nggak kelihatan buat orang yang paling butuh.
Di Korea, yang lebih sering dibahas justru apa yang nangkring di atasnya. Papan reklame toko, motor kurir, skuter listrik sewaan, lapak yang meluber dari pasar tradisional, sampai mobil yang parkir setengah naik trotoar setelah kalah di perang parkir. Buat yang jalan pakai mata, itu cuma garis kuning; buat yang jalan pakai tongkat, itu jalan yang tiba-tiba putus. Makanya menjaga ubin ini tetap kosong jadi bagian dari nunchi di ruang publik, sama kayak etika di kereta, dan sering muncul tiap kali orang ngomongin hak untuk bergerak dan kota ini sebenarnya dirancang buat siapa. Nanti pas kamu tap kartu transportasi dan masuk stasiun di Seoul, coba lihat ke bawah. Pasti ada jalur kuning dari gerbang tiket sampai peron.