decodeK

Kontroversi penjurian Sochi

Kejadian2014-02OlahragaKeputusan juriInternasional

Di Olimpiade Sochi 2014, Kim Yuna tampil bersih di dua program tapi tetap kehilangan emas tunggal putri ke atlet 17 tahun dari tuan rumah. Skornya bikin debat penjurian meledak ke seluruh dunia.

Sochi, Februari 2014, harusnya jadi panggung perpisahan Kim Yuna, juara bertahan sejak Vancouver. Dia menang di program pendek dengan 74,92, tapi Adelina Sotnikova dari Rusia, yang lompatannya dinilai jauh lebih gampang, cuma tertinggal 0,28. Para komentator udah mulai bilang nilai eksekusi dan level step Kim kok pelit banget. Besoknya Kim membawakan tango Adios Nonino tanpa satu pun kesalahan. Komentator BBC yakin itu emas. Lalu skornya keluar: 144,19 untuk free skate, total 219,11, sekitar lima poin di bawah Sotnikova. Perak. Perunggu jatuh ke Carolina Kostner dari Italia.

Sorotan utamanya ada di meja juri. Salah satu juri free skate adalah istri petinggi federasi skating Rusia. Juri lain, dari Ukraina, pernah diskors karena mencoba mengatur hasil di Olimpiade Nagano 1998. Technical controller, yang memutuskan penilaian lompatan dan level, adalah mantan wakil ketua federasi Rusia. Parahnya lagi, waktu itu penjurian masih anonim, jadi nggak pernah ketahuan siapa kasih nilai berapa. Curiga banyak, tapi jalan buat membuktikannya tertutup.

Yang paling heboh justru di luar Korea. NBC langsung ngetwit 'Kamu setuju dengan hasilnya?' begitu skor keluar. Katarina Witt, juara Olimpiade dua kali, menulis kalau dia udah siap menyambut Yuna di klub juara beruntun. Koran Prancis L'Equipe terang-terangan menyebutnya skandal, dan komentator Italia sampai nyeletuk di siaran bahwa ngitung triple itu bukan ngitung kentang, dia menari tango. Sebaliknya, sebagian media AS seperti The New York Times membela hasilnya, dengan alasan tujuh triple Sotnikova bikin programnya lebih ambisius. Apa pun itu, hasilnya nggak pernah berubah: secara resmi tetap emas untuk Sotnikova dan perak untuk Kim.

Kim sendiri tenang banget. Dia bilang nggak berharap banyak dari skornya dan hasil apa pun harus diterima. Waktu kamera menangkap dia menangis di belakang panggung, dia menjelaskan itu air mata karena karier panjangnya akhirnya selesai, bukan soal penjurian, dan kalau dapat emas pun dia bakal nangis sama. Di gala, dia pamit dengan lagu Imagine versi Avril Lavigne. Sikap anggun di momen yang harusnya bikin kesal itulah yang lebih diingat orang daripada angkanya.

Di Korea, emosi meledak. Petisi online untuk meninjau ulang penjurian sampai jadi pencarian nomor satu di portal, dan sebagian netizen membanjiri media sosial Putin dan Sotnikova dengan komentar jahat. Bahkan Viktor Ahn, atlet short track yang pindah kewarganegaraan ke Rusia, ikut kena getahnya. Perusahaan game yang bikin event hadiah Olimpiade malah membayarkan medali Kim sebagai emas, bukan perak, dan langsung dipuji pemain. Media Korea juga hobi pakai plesetan: 'sochi' bunyinya sama dengan ungkapan lama yang artinya 'akibat dari', seperti 'akibat kurangnya kebajikan'. Ini contoh jelas gimana satu keputusan juri, lewat cara orang Korea nonton olahraga, bisa berubah jadi gukppong, amarah, dan aksi massal. Rasanya makin sakit karena figure skating bukan cabang yang biasa dimenangkan Korea; Kim menaklukkannya hampir sendirian.

Proses resminya berakhir sepi. Karena Kim nggak mau protes, federasi skating Korea awalnya cuma minta klarifikasi dan langsung dikritik. Maret 2014, Komite Olimpiade Korea dan federasi mengajukan pengaduan ke komisi disiplin ISU, tapi yang dipersoalkan komposisi juri, bukan hasilnya, dan bulan Juni ditolak. Mereka nggak membawanya ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Yang berubah justru sistemnya: menjelang musim 2016-17, ISU menghapus penjurian anonim, dan Reuters menyebut skandal Sochi sangat memengaruhi voting itu.

Isu doping beberapa kali membuka luka lama. Tahun 2016, di tengah skandal doping massal Rusia, nama Sotnikova muncul di daftar yang dicurigai, tapi dia dinyatakan bersih. Tahun 2023 dia bilang di acara YouTube bahwa sampel pertamanya positif dan yang kedua negatif; Komite Olimpiade Korea resmi minta IOC menyelidiki ulang, dan IOC menjawab nggak ada rencana ke sana. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, tiap ada penilaian yang janggal, 'Sotnikova dan Kim Yuna' langsung jadi meme. Di YouTube, penampilan perak Kim ditonton lebih dari dua kali lipat penampilan yang dapat emas. Begitulah cara fans menghitung skor versi mereka.