Jeju
Pulau vulkanik di laut selatan Korea. Awalnya terkenal sebagai tempat liburan, tapi pulau ini juga punya bahasa sendiri, budaya haenyeo, dan ingatan soal tragedi 3 April.
Di tengahnya berdiri Gunung Halla, dikelilingi hampir 370 bukit vulkanik kecil yang disebut oreum. Luasnya kira-kira tiga kali Seoul, pulau terbesar di Korea. Dulu pulau ini kerajaan merdeka bernama Tamna, dan orang Eropa abad ke-17 mengenalnya sebagai Quelpart.
Julukan tertuanya samdado, pulau yang punya banyak angin, batu, dan perempuan. Kedengarannya lucu, tapi ceritanya sedih. Banyak laki-laki yang melaut nggak pulang lagi, dan para perempuan yang menyelam untuk menghidupi keluarga membangun tradisi haenyeo. Sisi lainnya sammu, tiga hal yang nggak ada: pencuri, pengemis, dan pagar rumah, karena semua orang di desa saling kenal. Jeju juga terkenal dengan jeruknya, dan warganya sudah bosan banget ditanya apa semua keluarga punya kebun jeruk.
Orang dari daratan sering nggak ngerti omongan kakek nenek Jeju. Bahasa Jeju memang sebeda itu. Judul asli When Life Gives You Tangerines di Netflix pakai bahasa Jeju (kurang lebih "kamu sudah kerja keras banget"), jadi tantangan pertama para penerjemah. Our Blues yang dibintangi aktris asli Jeju Ko Doo-shim juga berlatar pasar dan pelabuhan pulau ini. Yang ditampilkan bukan resor, tapi rasanya hidup di pulau.
Tragedi 3 April adalah luka terdalam Jeju. Dalam bentrokan bersenjata dan penumpasan setelah kemerdekaan, banyak sekali warga pulau tewas, dan yang mengalaminya masih mengingatnya dengan jelas. Di sisi lain, pariwisata membawa modal dari luar, dan makin banyak rumah yang sekarang pasang pagar.
Jeju juga tujuan study tour klasik, makanya para siswa di kapal Sewol tahun 2014 sedang menuju ke sana. Tahun 2018 pengungsi Yaman datang lewat program bebas visa, perdebatannya meluas ke seluruh negeri, dan aktor yang membela mereka dihujat habis-habisan. Dari sisi yang lebih ringan, kehidupan Lee Hyori di Jeju jadi gambaran hidup setelah turun dari puncak.