Hidup di pulau
Korea Selatan punya lebih dari tiga ribu pulau, tapi cuma sebagian yang berpenghuni. Kapalnya cuma beberapa kali sehari, jadi kalau laut lagi ganas, kamu bakal terjebak.
Ritme hidup di pulau diatur sama jadwal kapal. Cuaca berubah dikit aja, pelayaran langsung dibatalkan, dan jadwal ke rumah sakit di daratan plus paket kiriman kamu ikut tertahan. Makanya buat orang pulau, satu jembatan itu bisa mengubah hidup. Pulau kayak Geojedo, Namhaedo, dan Dolsando sekarang sudah tersambung ke daratan lewat jembatan, dan hidupnya beda banget dibanding pulau yang masih cuma bisa dicapai pakai kapal.
Sumber penghidupan hampir semuanya dari laut. Kebanyakan desa pulau itu desa nelayan, dan sekarang pariwisata sama wisata mancing ikut menopang. Sashimi ala Korea yang wajib dicari pas liburan ke pulau juga datang dari laut ini. Pulau paling terkenal jelas Jeju. Haenyeo di sana, para perempuan yang menyelam tanpa tabung oksigen, cuma modal satu tarikan napas, buat ambil abalon dan keong laut, masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO tahun 2016. Tapi per April 2024, haenyeo Jeju tinggal 2.839 orang, dan lebih dari 60% sudah di atas 70 tahun. Tahun itu yang baru gabung cuma 23 orang.
Angka-angka ini menggambarkan kondisi semua pulau. Begitu sekolah tutup, keluarga yang punya anak pergi duluan, dan desa yang tersisa jadi barisan terdepan di negara yang menua paling cepat. Pulau adalah tempat pemusatan ke Seoul dan kepunahan daerah kelihatan paling awal dan paling jelas. Anggap aja pulau itu satu lapis lebih jauh dari desa.
Kalau mau merasakan suasana pulau lewat layar, tonton Our Blues dan When Life Gives You Tangerines, dua drakor yang berlatar di Jeju. Di antara pasar, dermaga, dan para haenyeo, kamu bakal dengar dialek yang susah dipahami orang daratan. Bahkan pakai subtitle pun, omongan para sesepuh pulau kedengarannya setengah asing buat orang Korea sendiri.