decodeK

jibangsomyeol (지방소멸)

KataPopulasiDaerahSosial

Anak muda pada pindah ke Seoul, dan kota serta desa di daerah pelan-pelan jadi kosong. 'Kepunahan' kedengarannya lebay, tapi sekarang kata ini langganan di judul berita Korea.

Istilahnya dari Jepang. Mantan menteri Masuda Hiroya bikin indeks: jumlah perempuan usia 20 sampai 39 dibagi jumlah penduduk usia 65 ke atas. Kalau di bawah 0,5, daerah itu masuk 'berisiko punah'. Pas diterapkan ke Korea, hasilnya bikin kaget. Per Juli 2026, 141 dari 230 kota, kabupaten, dan distrik, atau 61,5%, berisiko punah. Kabupaten Uiseong di Gyeongsang Utara jadi yang pertama masuk level risiko tinggi, dan Sangju jadi kota pertama yang melewati garis itu. Angka nasionalnya 0,522, tipis banget di atas batas.

Akar masalahnya pemusatan di wilayah ibu kota. Satu dari lima orang Korea tinggal di Seoul, dan lebih dari separuh tinggal di wilayah metropolitan. Para ahli bilang kampus dan kerjaan bagus yang numpuk di sana jadi alasan utama anak muda pergi. Penduduk Seoul sendiri berkurang, tapi yang pindah kebanyakan cuma geser ke Gyeonggi atau Incheon biar tetap bisa bolak-balik, jadi neraka komuter makin panjang. Ditambah angka kelahiran rendah dan penuaan tercepat di dunia, muncullah sekolah tutup, rumah kosong, dan tradisi yang putus karena nggak ada lagi yang nerusin. Makanya daerah yang menyusut makin ngandelin festival lokal dan ngidupin lagi pasar tradisional, dan kebijakan buat narik anak muda serta pekerja asing terus bermunculan.

Lucunya, di layar kaca desa justru tempat paling hangat. Hometown Cha-Cha-Cha dengan desa pesisirnya, When the Camellia Blooms di kota kecil Ongsan, dan antologi Jeju Our Blues sama-sama nunjukin kampung penuh tetangga kepo yang bikin pengin pulang. Banyak yang bilang kehangatan itu lahir dari rasa kangen sama kenyataan yang pelan-pelan hilang.

Kadang ceritanya berbalik. Halte bus sepi di Jumunjin, Gangneung, jadi tempat fans dari seluruh dunia antre foto, cuma gara-gara satu foto album BTS.