eorinijip daegi (어린이집 대기)
Ngantri di daftar tunggu daycare sejak baru tahu hamil. Jumlah anak makin sedikit tiap tahun, tapi tempat yang diincar orang tua selalu penuh.
Di Korea, eorinijip (daycare) ngurus anak dari lahir sampai masuk SD. Dasar hukumnya beda sama TK yang dihitung sekolah, tapi kebanyakan orang tua nganggep dua-duanya mirip. Jenisnya macem-macem: negeri yang dikelola negara atau pemda, daycare kantor yang dibikin perusahaan buat karyawannya, daycare rumahan yang ngasuh 5 sampai 20 anak di dalam unit apartemen, koperasi orang tua, dan swasta. Perang daftar tunggu paling sengit ada di yang negeri, soalnya dapet dukungan dan pengawasan rutin dari pemerintah jadi dianggap paling aman. Obsesi nyari tempat yang bisa dipercaya ini makin kuat sejak 2015, waktu rekaman CCTV dari sebuah daycare di Incheon yang nunjukin guru mukul anak umur empat tahun bikin satu negara syok.
Ironinya ada di angka. Jumlah daycare mencapai puncak di 2013, sekitar 43 ribuan, terus turun terus, dan turunnya lebih cepat daripada jumlah anak. Karena angka kelahiran rendah udah pasti jadi masa depan, makin sedikit orang yang mau buka daycare baru, dan akhirnya rebutan kursi di daycare negeri yang jumlahnya sedikit malah makin ketat. Makanya negara dengan angka kelahiran di bawah 0,8 tetap kekurangan tempat daycare.
Kondisinya beda jauh tergantung tempat tinggal. Di kota-kota baru kawasan Seoul Raya, daftar dulu ke daycare di kompleks apartemen itu langkah pertama. Di desa pertanian dan nelayan kebalikannya: daycare terakhir di daerah itu tutup, dan anak-anak harus dikirim ke kecamatan atau kabupaten sebelah. Papan daycare yang tutup sering jadi tanda paling awal dari daerah yang pelan-pelan punah. Ada juga ketegangan antara keluarga yang suami-istri kerja sama keluarga dengan ibu rumah tangga. Ada daycare yang lebih suka anak yang dijemput cepat di siang hari, dan seorang menteri pernah harus klarifikasi setelah omongannya soal ngebatasin ibu rumah tangga pakai daycare bikin heboh.
Kalau nggak dapet tempat, harus ada yang jaga anak di rumah, dan kalau bebannya numpuk di satu orang jadinya dokbak yuga, ngasuh sendirian. Itu sebabnya waktu daycare tutup gara-gara COVID-19 di 2020, dari mana-mana keluar keluhan beban ngasuh anak naik drastis. Habis daycare, balapan berikutnya udah nunggu: TK bahasa Inggris, hagwon, dan seluruh tagihan les privat. Kementerian yang ngurus pun ganti: sejak Juni 2024 daycare di bawah Kementerian Pendidikan, bukan lagi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.