Angka Kelahiran di Bawah 0,8
Februari 2024, Korea mengumumkan angka kelahiran total (TFR) tahun 2023: 0,72, rekor terendah di dunia yang lagi-lagi pecah. Ini angka yang paling sering dibawa media asing soal Korea setelah K-pop.
TFR itu rata-rata jumlah anak yang diperkirakan dilahirkan satu perempuan seumur hidupnya. Buat menjaga populasi tetap stabil butuh 2,1, jadi 0,72 artinya dua orang tua bahkan nggak meninggalkan satu anak pun. Kalau dilihat khusus kuartal terakhir 2023, angkanya 0,65, pertama kalinya ada negara yang TFR kuartalannya masuk kisaran 0,6. Dari 17 provinsi dan kota besar, nggak ada satu pun yang di atas 1,0, dan se-Korea cuma 43 kabupaten/kota yang lolos. Jumlah bayi lahir turun dari sekitar 495 ribu di 2003 jadi sekitar 230 ribu dua puluh tahun kemudian, nggak sampai separuhnya.
Ironinya, Korea dulu justru terkenal menyuruh warganya punya anak lebih sedikit. Tahun 1980-an pemerintah gencar kampanye KB dengan slogan kayak 'Dua pun sudah kebanyakan' dan 'Satu anak per keluarga pun semenanjung tetap penuh', dan saking efektifnya, angkanya sudah di bawah batas pengganti sejak 1983. Waktu jatuh ke 1,18 di 2002, pemerintah buru-buru putar haluan jadi pro kelahiran tahun berikutnya, tapi grafiknya tetap meluncur. Tahun 2018 angkanya 0,98, negara OECD pertama di bawah 1. Tahun 2020 jumlah kematian melewati kelahiran dan populasi mulai menyusut alami. Tahun 2022 jadi negara pertama di dunia yang masuk angka 0,7-an dengan 0,78. Lalu datanglah 0,72.
Titik paling rendah ada di Seoul, yang jadi juru kunci di 2024 dengan 0,58. Banyak yang membacanya sebagai efek semua hal numpuk di kawasan ibu kota, harga rumah gila-gilaan, dan kompetisi tanpa jeda. Tanya orang Korea kenapa punya anak lebih sedikit, jawaban teratasnya biaya les privat. Seorang ekonom OECD bahkan menyebut mahalnya biaya pendidikan bikin banyak keluarga Korea berhenti di satu anak. Tambahkan urusan tempat tinggal yang dilambangkan sistem jeonse, budaya kerja yang menganggap lembur itu biasa, ngurus anak sendirian, nikah yang makin telat, sampai yang memilih bihon alias nggak nikah sama sekali, daftar penyebabnya jadi kayak rangkuman semua isu sosial Korea.
Bahkan istilahnya pun jadi perdebatan. Istilah lama jeochulsan ('rendahnya persalinan') dikritik karena seolah menaruh beban di pundak perempuan yang melahirkan, jadi di 2019 kamus bahasa kesetaraan gender Seoul mengusulkan 'jeochulsaeng' ('rendahnya kelahiran'). Sekarang kebanyakan politisi dan banyak lembaga publik memakainya, dan kantor kepresidenan sampai membuat jabatan sekretaris senior khusus penanganan rendahnya kelahiran. Sebaliknya, kalangan akademisi bilang angka fertilitas dan angka kelahiran itu indikator berbeda dan nggak boleh dicampur.
Dampaknya sudah kelihatan. Karena pemuda yang bisa ikut wajib militer makin sedikit, militer terus memperlonggar syarat dinas aktif. Ada juga bekas daycare yang tutup lalu berubah jadi panti jompo. Istilah daerah yang terancam punah dan Korea sebagai negara yang menua paling cepat juga lahir dari angka ini, dan sekitar masa ini pula politisi mulai serius membahas soal imigrasi.
Tapi ceritanya belum selesai. Tahun 2024 angkanya naik ke 0,75 dengan sekitar 238 ribu kelahiran, kenaikan pertama dalam sembilan tahun, dan di 2025 sampai 0,80 dengan kira-kira 254 ribu bayi. Ada juga yang mengingatkan ini bisa cuma lonjakan sementara karena pernikahan dan kehamilan yang tertunda selama Covid akhirnya terjadi, jadi belum ada yang berani menyebutnya titik balik permanen.