Jam tidur anak sekolah
Pulang sekolah langsung ke les, pulang les langsung ke ruang belajar. Survei demi survei menunjukkan pelajar SMA Korea termasuk yang paling kurang tidur di negara maju.
Kalau kamu ikutin satu hari mereka, hitungannya gampang. Masuk sekolah sekitar jam 8.30, jadi kalau naik bus harus bangun jam 7.30. Anak kelas 12 yang selesai belajar malam jam 10 baru sampai rumah jam 10.30 sampai 11, mandi, main HP sebentar, eh udah hampir tengah malam. Di atas kertas tujuh jam, kenyataannya cuma sekitar enam. Makanya kelas jam pertama sepi banget: setengah kelas tidur di meja. Itu yang bikin hari sekolah di Korea terasa panjang banget.
Bintang utama malam-malam itu namanya yaja, singkatan dari 'belajar mandiri malam'. Sudah ada sejak 1960-an dan menyebar ke SMA seluruh negeri tahun 1981. Katanya 'mandiri', tapi sampai tahun 90-an praktis wajib, sampai dijuluki 'belajar paksa malam'. Setelah reformasi pendidikan 1998 jumlahnya berkurang, tapi masih ada sekolah yang menahan kelas 12 sampai jam 11 malam, dan sekolah berasrama punya 'simja' yang bisa sampai jam 2 pagi. Di kota kecil, yaja selesai pas jam bus terakhir, jadi bus terakhir penuh anak berseragam.
Kalau nggak ada yaja, slotnya diisi hagwon dan study cafe. Macet jam 10 malam di depan deretan tempat les Daechi-dong, isinya orang tua yang jemput anak, udah terkenal banget. Karena itulah ada jam tutup hagwon yang diatur. Garis finis semua perlombaan ini adalah seleksi masuk kampus, terutama Suneung. Drakor SKY Castle menggambarkan malam-malam itu dengan sedikit dramatisasi.
Orang Korea suka bercanda setengah serius: jam tidur yang hilang waktu sekolah nanti berubah jadi lembur pas udah kerja. Rasa harus mengorbankan tidur biar bisa bertahan ini juga jadi bahan istilah Hell Joseon.