decodeK

Tradisi yang masih dijalani

KataTradisiKeseharianInti

Bukan benda di balik kaca museum, tapi tradisi yang masih benar-benar dijalani orang Korea sampai sekarang. Dari mana yang bertahan dan mana yang hilang, kelihatan apa yang masih dipegang erat masyarakat ini.

Yang paling kelihatan tentu hari raya. Saat Seollal dan Chuseok, hampir seisi negeri mudik, paginya menata meja charye, lalu melakukan sebae, sujud dalam untuk orang tua. Menjelang musim dingin, satu keluarga besar kumpul buat gimjang, bikin kimchi untuk setahun sekaligus. Caranya bisa berubah, tapi hari kumpulnya tetap.

Tradisi yang sudah menempel di badan lebih senyap. Kebiasaan makan duduk di lantai dan tidur di lantai yang hangat datang dari ondol, sistem pemanas dari kerajaan kuno Goguryeo yang turun lewat Goryeo lalu menyebar ke seluruh negeri di akhir Joseon. Kebanyakan apartemen sekarang pun masih pakai pemanas lantai. Guci kimchi yang dulu dikubur di tanah berubah jadi kulkas kimchi, contoh paling pas tradisi yang ganti bentuk tanpa hilang.

Ada juga tradisi yang bertahan sebagai tujuan wisata. Kawasan hanok seperti Desa Hahoe di Andong, Desa Yangdong di Gyeongju, dan desa hanok di Jeonju sekarang jadi destinasi populer, dan di depan istana banyak orang berfoto pakai hanbok sewaan. Templestay, menginap beberapa malam di kuil gunung dengan doa subuh dan makan ala biksu, juga laris di kalangan turis asing.

Me-remix tradisi juga lagi kencang. Video promosi wisata yang diiringi pansori viral ke seluruh dunia, dan IDOL dari BTS membawa seruan gugak dan hanbok ke panggung. Sisi lainnya: sekarang tradisi paling sering hilang bukan karena dilarang atau ketinggalan zaman, tapi karena nggak ada lagi yang meneruskan. Saat desa-desa mulai kosong, ritual dan permainan desanya ikut putus.