decodeK
Andong

Andong

TempatKotaTradisiWarisan budaya

Kota di Gyeongbuk utara tempat desa bangsawan zaman dulu dan rumah induk klan bukan sekadar pajangan museum, karena masih ada orang yang tinggal di sana. Ingatnya: Desa Hahoe, tari topeng, dan sepiring besar jjimdak.

Slogan kotanya sendiri menyebut Andong "ibu kota budaya spiritual Korea", dan memang pantas. Di era Joseon, ini markas para sarjana Konfusian di wilayah selatan, dan Dosan Seowon, akademi tempat filsuf Toegye Yi Hwang mengajar, ada di sini. Makanya Andong masih punya banyak banget jongga, rumah utama keluarga bangsawan, tempat pewaris tertua tetap menggelar ritual leluhur. Di sini kamu bisa lihat warisan Konfusianisme sebagai pemandangan sehari-hari, bukan bab di buku pelajaran. Bahkan katanya dialek sini termasuk yang paling pas buat melantunkan Analekta keras-keras.

Bintang utamanya Desa Hahoe, yang dilingkari Sungai Nakdong membentuk huruf S. Rumah hanok beratap genteng dan rumah beratap jerami berdampingan, warganya beneran tinggal di situ, dan Hahoe Byeolsingut Talnori, drama topeng yang ngeledek bangsawan dan sarjana sok suci, masih dipentaskan. Topeng Hahoe praktis jadi wajah talchum Korea. Ratu Elizabeth II berkunjung tahun 1999 dan disuguhi hidangan ulang tahun, dan apel Andong pernah dipasok ke keluarga kerajaan Inggris. Hahoe, Dosan Seowon, Byeongsan Seowon, dan kuil Bongjeongsa semuanya masuk Warisan Dunia UNESCO.

Ada sisi yang jarang dibahas juga. Di masa penjajahan Jepang, Andong melahirkan pejuang kemerdekaan terbanyak se-Korea, lebih dari seribu orang, termasuk penyair Yi Yuksa. Sejak Bendungan Andong dan Imha dibangun, kota ini juga jadi yang paling sering berkabut di Korea.

Makanannya juara: jjimdak, ayam rebus bumbu kecap dengan soun; ikan kembung asin, diasinkan biar awet dibawa dari pantai ke pedalaman; heotjesabap, "hidangan ritual palsu" yang ditata ala sesajen; dan soju Andong yang disuling cara lama. Bonus buat pencinta drakor: adegan sekolah di All of Us Are Dead syutingnya di sebuah SMA di Andong.