decodeK

Kim, Lee, Park

KataNamaKeseharianInti

Tiga marga, Kim, Lee, dan Park, udah mencakup lebih dari 40% penduduk Korea Selatan. Makanya di Korea, manggil marga doang nggak bakal nunjuk siapa-siapa.

Kalau dilihat angkanya makin kerasa. Marga Kim sendiri hampir 20% populasi, tambah Choi dan Jung, lima marga sudah jauh lewat dari separuh negara. Di kebanyakan negara, satu marga tembus 1% aja udah banyak. Marga tradisional Korea cuma 286 per 2003, dan kalau ditulis pakai hangeul saja, cuma sedikit di atas 100. Perbandingan favoritnya: Liechtenstein yang penduduknya di bawah 40 ribu punya lebih dari 2.000 marga. Dari sini lahir pepatah 'nyari Pak Kim di Seoul', plus lelucon pedagang pasar di Asia Tenggara yang neriakin 'Bos Kim!' ke tiap turis Korea.

Jadi cara manggil orang pun berkembang. Teriak 'Kim!' di kelas atau kantor, setengah ruangan nengok, makanya orang pakai jabatan kayak 'Asisten Manajer Kim' atau 'Bu Guru Park', atau nama lengkap sekalian. Manggil pakai marga doang malah kedengeran kasar. Kebalikan dari Barat yang anggap marga itu sopan, dan dari Jepang yang makin jauh hubungannya makin pakai marga. Sistem panggilan yang detail banget ngisi celah itu. Penonton luar juga sering ngira dua karakter drakor bermarga sama pasti saudaraan.

Tapi nggak semua Kim itu satu keluarga. Marga Korea punya bon-gwan, asal-usul leluhur klannya: Kim dari Gimhae, Kim dari Gyeongju, Kwon dari Andong. Di sensus 2015, Kim Gimhae aja udah 9% penduduk. Dulu bon-gwan jadi ukuran gengsi keluarga, dan buku silsilah serta perkumpulan klan jadi tulang punggung tatanan Konfusianisme. Kota kayak Andong sampai sekarang masih dikenal lewat nama bangsawannya.

Sejarah juga bikin beberapa marga jadi raksasa. Waktu aturan tahun 1909 mewajibkan semua orang punya marga dan bon-gwan, banyak yang tadinya nggak punya marga memilih marga besar di sekitarnya. Park termasuk marga yang pasti asli Korea: namanya dari mitos raja pertama Silla yang menetas dari telur berbentuk labu, 'bak'. Pas masa paksaan ganti nama ala Jepang, klan-klan diam-diam menyelipkan jejak marga atau asal-usul mereka di nama baru.

Sekarang petanya lagi berubah. Sejak revisi hukum perdata 2005, orang tua boleh sepakat menurunkan marga ibu, dan marga baru dari warga naturalisasi bikin hitungan 2015 melonjak jadi 5.582. Itu wajah keluarga multikultural di Korea. Baca bareng soal urutan marga dulu baru nama, seriusnya orang tua dalam kasih nama anak, dan kenapa idol pakai nama panggung, dan nama Korea langsung kebaca polanya.