decodeK

Panggilan yang cuma sopan ke satu pihak

KataPanggilanKeluargaPerdebatanInti

Istri memanggil adik-adik suaminya 'doryeonnim' dan 'agassi', dua-duanya sebutan hormat. Suami memanggil adik-adik istrinya 'cheonam' dan 'cheoje', tanpa embel-embel hormat. Satu pernikahan, panggilannya timpang banget.

Contekannya begini. Adik laki-laki suami dipanggil doryeonnim kalau belum menikah, seobangnim kalau sudah. Adik perempuan suami agassi, kakak laki-laki ajubeonim, kakak perempuan hyeongnim. Dari pihak istri cuma ada cheonam, cheoje, dan cheohyeong. Belum lagi, istri diharapkan pakai jondaemal bahkan ke adik ipar yang lebih muda, sementara suami yang ngomong santai ke adik istrinya dari dulu nggak dianggap masalah.

Yang paling bikin kesal ada di asal katanya. Doryeonnim dan agassi awalnya panggilan pelayan untuk anak laki-laki dan anak perempuan majikan. Dari situ muncul sindiran 'jadi suami datang sebagai tamu, istri masuk sebagai pelayan?' Ini kekesalan yang sama dengan yang bikin kata siworld ngetren. Ada juga argumen balik: adik laki-laki suami memanggil istri kakaknya hyeongsunim, pakai sebutan hormat, sedangkan adik laki-laki istri memanggil suami kakaknya cuma maehyeong, jadi ketimpangannya nggak cuma satu arah.

Tapi rasanya tetap jelas. Di satu survei, lebih dari 90% perempuan bilang panggilan yang sekarang nggak adil, sementara laki-laki cuma sedikit di atas separuh. Tahun 2018 Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga memasukkan perbaikan panggilan ke agenda kebijakan, dan Institut Nasional Bahasa Korea menerbitkan panduan etiket yang bilang nggak wajib pakai doryeonnim, seobangnim, atau agassi. Panggil saja namanya plus 'ssi'. Isu ini langganan di konflik gender Korea.

Kenyataannya berubah pelan-pelan. Saat keluarga besar kumpul di Chuseok atau Seollal, panggilan lama masih jadi default. Tapi jalan tengahnya makin banyak: panggilannya tetap, tapi saling pakai bahasa sopan dua arah, atau begitu punya anak, semua dipanggil dari sudut pandang si anak, misalnya 'samchon' (om) atau 'gomo' (tante), biar aman. Satu panggilan bisa memuat umur, urutan senioritas, dan beban keluarga sekaligus. Itulah serunya sekaligus capeknya bahasa Korea. Kalau adegan drakor di mana menantu dengan sopan memanggil adik ipar yang jauh lebih muda 'agassi' terasa aneh buat kamu, ketimpangan inilah sebabnya. Bandingkan dengan panggilan santai unnie antar sesama perempuan, bedanya makin kelihatan.