decodeK
jesa (제사와 차례)

jesa (제사와 차례)

KataRitus peralihanHari rayaKeluargaPerubahanInti

Ritual Konfusianisme berupa menyajikan makanan dan bersujud untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal. Versi yang dilakukan pagi hari saat hari raya disebut charye, dan sekarang jadi salah satu topik paling panas di keluarga Korea.

Bentuk dasarnya gije-sa, yang digelar di hari peringatan wafatnya satu leluhur. Secara tradisi yang dihormati empat generasi, dari orang tua sampai buyut dari buyut, dan pagi hari Seollal serta Chuseok semuanya disapa sekaligus lewat charye. Namanya secara harfiah berarti "ritual teh", karena awalnya cuma persembahan teh sederhana, dan uniknya versi hari raya ini nggak ada di Tiongkok. Urutannya sering muncul di drakor: buka pintu depan untuk menyambut arwah, tata meja di depan layar lipat, tempel papan nama leluhur dari kertas lalu dibakar di akhir. Setelah itu semua orang berbagi minuman dan makanan ritual, tradisi yang disebut eumbok. Makanya saat libur hari raya polisi sering razia mabuk di dekat pemakaman.

Aturan tata mejanya juga terkenal. Hongdong baekseo menaruh buah merah di timur dan buah pucat di barat; jo-yul-i-si mengurutkan kurma, kastanye, pir, dan kesemek. Tapi tiap keluarga beda-beda, sampai ada ungkapan jangan ikut campur meja sesajen orang lain, dan pihak Sungkyunkwan, lembaga penjaga ritual Konfusianisme, pernah bilang aturan-aturan ini nggak punya dasar yang jelas. Warna daerahnya kental. Di Jeju ritual ini disebut sikge, anak perempuan yang sudah menikah dan suaminya ikut hadir, dan roti ikut disajikan. Di Gyeongsang, dombaegi alias daging hiu asin wajib ada. Kota klan tua seperti Andong dikenal masih memegang tata cara lama, dan ritual kerajaan di Kuil Jongmyo digelar tiap musim semi.

Masalah sebenarnya ada di persiapan. Masak-memasak, terutama goreng jeon yang nggak ada habisnya, kebanyakan jatuh ke menantu perempuan, jadi tiap hari raya drama keluarga mertua dan konflik gender kambuh lagi. Sampai ada istilah "mogok menantu". Makin banyak keluarga yang pesan satu meja lengkap dari katering atau berhenti sama sekali. Dalam satu survei, 35.7% bilang nggak melakukan charye saat Chuseok; di wilayah Daegu dan Gyeongbuk yang konservatif 80.7% masih melakukannya, sementara di Seoul cuma sekitar separuh. Ada juga keluarga yang menyajikan ayam goreng atau pizza kesukaan almarhum. Keluarga Protestan menggantinya dengan ibadah peringatan, jadi keluarga yang agamanya campur harus berunding dari pagi.

Itu juga alasan film Exhuma, tentang sebuah makam dan apa yang bisa dilakukan leluhur pada yang masih hidup, terasa merinding banget buat penonton Korea: menghormati yang sudah tiada masih jadi bagian hidup sehari-hari.