
banchan (반찬)
Piring-piring kecil yang muncul di samping nasi. Nggak perlu dipesan, langsung datang sendiri, dan kalau minta tambah biasanya diisi ulang gratis.
Katanya berasal dari aksara 'nasi' dan 'lauk'. Pesan satu jjigae di restoran Korea, meja langsung penuh kimchi, sayuran berbumbu, dan beberapa tumisan sebelum menu utamanya datang. Kimchi saking wajibnya sampai dibilang nggak ikut dihitung waktu menghitung jumlah banchan. Jepang juga makan nasi dengan lauk, tapi refill gratis di restoran jarang ada. Makanya momen tamu asing minta tambah banchan jadi bahan lucu langganan di acara kayak Youn's Kitchen.
Tapi sebenarnya nggak gratis juga. Restoran sudah memasukkan biaya banchan ke harga menu, logikanya sama dengan nggak ada tip: semuanya sudah termasuk. Masalahnya, piring yang nggak disentuh langsung jadi sampah makanan. Tahun 1983 pemerintah pernah mencoba sistem pesan lauk secara terpisah, tapi protes pelanggan kencang banget sampai sistemnya hilang begitu saja. Anggapan bahwa menjamu tamu itu harus sampai meja penuh sesak memang mengakar kuat.
Dalam bahasa Inggris biasanya diterjemahkan jadi side dish, tapi nggak pas banget, karena ada banchan kayak bulgogi atau ikan bakar yang justru jadi bintang utamanya. Jadi sekarang orang langsung bilang banchan saja. Konon dulu tiap orang makan dari meja kecilnya sendiri, tapi sekarang nasinya masing-masing dan banchan ditaruh di tengah untuk dibagi. Setelah pandemi COVID, pemandangan banyak sendok nyemplung ke satu panci sudah jauh berkurang.
Di rumah, orang menyimpan mitbanchan yang tahan lama kayak tumis teri, kacang hitam manis, dan daging rebus kecap di wadah, lalu dimakan berhari-hari. Rasanya asin atau manis biar awet, dan biasanya ini juga yang paling dibenci anak-anak. Milih-milih lauk yang nggak disukai bahkan punya nama sendiri: banchan tujeong. Toko banchan juga makin banyak di tiap lingkungan buat anak kos yang sering honbap. Bonus: di pepatah "lapar adalah banchan terbaik", kata sijang di situ artinya lapar, bukan pasar.