decodeK

Semua keluar sekaligus

KataMakananSopan santunInti

Makanan Korea nggak keluar per course. Nasi, sup, dan lauk-pauk datang barengan memenuhi meja, dan semua orang ambil sendok di waktu yang sama.

Format klasiknya disebut bansang. Tingkatannya dihitung dari jumlah lauk, tanpa menghitung nasi, sup, kimchi, saus, dan jjigae: 3, 5, 7, 9, atau 12 lauk, dan yang 12 biasanya diajarkan sebagai meja raja. Tapi catatan dari masa Raja Jeongjo menulis hidangan raja cuma tujuh, dan buku resep akhir Joseon bahkan nggak punya versi 12, jadi rumus ini masih diperdebatkan. Yang pasti, kimchi saking dasarnya nggak dihitung sama sekali.

Yang paling bikin kaget turis adalah refill-nya. Pesan satu menu utama di restoran, langsung keluar deretan banchan, dan kalau minta tambah, ya dikasih lagi. Padahal di negara tetangga tiap piring kecil ada harganya. Tahun 1983 pemerintah pernah uji coba sistem jual lauk terpisah, tapi diprotes pelanggan sampai hilang sendiri. Rasa bahwa tuan rumah yang baik harus menata meja sampai penuh banget memang kuat. Sisi gelapnya: lauk yang nggak disentuh jadi sampah makanan.

Menerjemahkan banchan jadi "side dish" agak kurang pas, karena beberapa lauk seperti bulgogi atau ikan bakar sebenarnya bintang utamanya. Makanya sekarang dalam bahasa Inggris pun disebut banchan saja.

Pemandangan banyak sendok masuk ke satu panci jjigae sering dianggap simbol jeong, padahal di era Joseon yang umum justru nampan kecil per orang. Banyak yang bilang kebiasaan berbagi menyebar lewat masa perang dan kemiskinan. Sejak pandemi, bahkan di makan malam kantor orang biasanya ambil ke mangkuk masing-masing, dan makin populernya makan sendiri juga bagian dari pergeseran itu.

Variety show paling jago memamerkan meja ini. Cha Seung-won yang menyiapkan meja penuh lauk di dapur desa di Three Meals a Day, masakan Korea yang disajikan ke tamu asing di Youn's Kitchen, sampai duel chef di Culinary Class Wars: apa yang ditaruh di meja itulah ceritanya.