Honbap / Honsul
Makan sendirian dan minum sendirian. Dulu bikin kamu kelihatan nggak punya teman; begitu ada namanya, jadi pilihan yang pede.
Di Korea, makan itu soal relasi. 'Kapan-kapan makan bareng yuk' hampir kayak salam, dan di kantor hoesik alias makan malam tim dianggap bukti kamu anak yang kompak. Makanya makan sendiri dulu sering dapat tatapan aneh. Arena paling kejam itu kantin geupsik di SMP dan SMA; begitu kuliah, jadwal tiap orang beda-beda dan makan sendiri jadi biasa. Di kawasan bimbel Noryangjin atau area gosiwon, ini sudah rutinitas.
Nah, ada plot twist-nya. Di era Joseon, standarnya justru satu orang satu meja. Catatan tahun 1930-an menggambarkan orang Korea makan di meja masing-masing dan nggak ngobrol selama makan. Gaya sekeluarga ngumpul di satu meja didorong oleh editorial koran tahun 1936 supaya kerja rumah lebih ringan, lalu makin mapan karena kekurangan barang setelah Perang Korea. Jadi honbap anak muda sekarang sebenarnya tradisi yang lebih tua.
Restoran punya hitungan sendiri. Resto samgyeopsal sering minimal pesan dua porsi, jadi datang sendiri itu mode sulit, sementara warung makan sopir, kedai bunsik, dan minimarket jadi tempat suci para honbap-er. Di internet bahkan beredar tabel 'level honbap' dari ramyeon di minimarket sampai nongkrong sendirian di bar. Karena rumah tangga satu orang makin banyak, makin banyak tempat bikin menu porsi satu, dan aplikasi delivery kayak Baemin ikut bikin makin gampang.
Honsul juga ikut arus yang sama. Kata ini mulai sering dipakai di 2010-an seiring banyaknya orang tinggal sendiri dan gaya hidup yang lebih individual, lalu drakor berjudul Drinking Solo bikin makin populer. Waktu COVID dan acara kumpul dilarang, minum sendirian di rumah langsung naik. Peringatannya selalu sama: karena nggak ada yang ngerem, gampang kebablasan. Acara yang menampilkan semua ini ke layar adalah I Live Alone, dan hidup sendiri, bareng bihon, mulai dilihat sebagai gaya hidup, bukan kekurangan.