saebyeok baesong (새벽배송)
Pesan jam 11 malam, besok sebelum jam 7 pagi barangnya udah di depan pintu. Sayur, daging, susu, bahkan bahan segar pun datang kayak gini.
Barang datang subuh sebenarnya bukan hal baru di Korea. Koran pagi, susu, dan minuman yogurt dari dulu memang diantar pagi-pagi. Bedanya di cara pesannya. Dulu langganan tetap, sekarang apa pun yang kamu masukin ke keranjang malam itu langsung dateng. Pemain besarnya Rocket Fresh dari Coupang dan 'Morning Star' delivery dari Market Kurly, Naver juga ikut masuk lewat kerja sama sama perusahaan logistik. Coupang nahan pelanggannya pakai membership yang dibundel sama benefit kayak Coupang Play. Intinya, paket kiriman berubah dari 'besok nyampe' jadi 'bangun tidur udah ada'.
Akibatnya banyak rumah yang udah nggak belanja ke supermarket lagi. Pulang habis lembur terus pesan sarapan besok lewat HP itu pemandangan biasa banget sekarang. Cocok sama budaya serba cepat ppalli-ppalli, kota 24 jam yang lampunya nggak pernah mati, dan hidup yang jalan pakai aplikasi. Tiap pagi lorong-lorong apartemen penuh tas pendingin dan kardus, dan misahin tumpukan kemasan buat daur ulang juga jadi rutinitas harian.
Di balik semua kepraktisan itu, ada orang yang kerja semalaman. Menurut serikat buruh, kurir subuh Coupang kerja dari jam 8.30 malam sampai jam 7 pagi, lima sampai enam hari seminggu. Tahun 2025, pas serikat kurir KCTU ngusulin pembatasan pengiriman jam 12 malam sampai jam 5 pagi, reaksi publik langsung keras, banyak yang nanya 'jadi dawn delivery mau dilarang?'. Asosiasi yang isinya sekitar 10.000 kurir mitra Coupang bilang 93% anggotanya nolak larangan itu di survei internal, dan ada juga kurir yang bilang kerja malam terus istirahat siang malah lebih enak. Serikat ngebantah, katanya mereka cuma mau batasi jam paling larut, bukan ngehapus layanannya. Pemerintah dan partai berkuasa juga hati-hati, jadi larangan total kayaknya susah kejadian, tapi soal panjangnya malam para pekerja antar barang dan pekerja platform masih jadi PR besar.