Aplikasi yang semua orang punya
Satu messenger, satu peta, satu aplikasi pesan antar, satu aplikasi barang bekas, satu aplikasi transfer. Hampir semua orang hidup dengan segelintir aplikasi yang sama, jadi kalau nggak pasang, urusan sehari-hari jadi makin ribet selangkah demi selangkah.
Nomor satu, tanpa saingan, adalah KakaoTalk. Chat sama teman jelas, tapi pengumuman kantor, pengingat janji rumah sakit, sampai notifikasi paket juga masuk ke sini. Pas ulang tahun, kirim kupon kopi lewat fitur hadiah itu cara ngucapin yang paling standar. Seberapa dalam aplikasi ini masuk ke hidup orang Korea dibahas sendiri di Hidup di dalam KakaoTalk.
Pencarian dan petunjuk arah itu wilayahnya Naver. Di Korea, petunjuk arah Google Maps terbatas, dan ini biasanya hal pertama yang bikin turis bingung. Makanan dipesan lewat aplikasi pesan antar, belanjaan yang dipesan malam udah nongol di depan pintu pagi harinya berkat pengiriman subuh, dan barang yang nggak kepakai dijual di aplikasi jual beli bekas sekitar rumah. Taksi pun lebih sering dipanggil lewat aplikasi daripada distop di jalan.
Uang bergerak lewat transfer rekening. Patungan makan malam atau bayar di toko kecil cukup pakai nomor rekening, dan uangnya langsung masuk begitu kamu tekan kirim. Catatan yang muncul di rekening penerima bakal kepotong di enam atau tujuh karakter tergantung banknya, jadi triknya tulis singkat aja. Dokumen resmi seperti surat keterangan domisili juga diurus lewat aplikasi, bukan di loket (Dokumen resmi di HP).
Buat orang asing, tembok paling tinggi adalah verifikasi identitas. Banyak banget pendaftaran yang minta nomor HP atas nama sendiri, makanya ada istilah nomor HP adalah kuncinya. Sebelum punya nomor, sering kali aplikasinya bisa diinstal tapi nggak bisa dipakai, jadi minggu-minggu pertama tinggal di Korea biasanya habis buat membuka aplikasi-aplikasi ini satu per satu. Gambaran lengkapnya ada di Rasanya tinggal di Korea.