gyejwa iche (계좌이체)
Transfer bank di Korea masuk dalam hitungan detik, walau beda bank dan jam 3 pagi sekalipun. Mau patungan makan atau kasih amplop nikahan, pertanyaan pertamanya biasanya: nomor rekeningmu berapa?
Cukup tiga hal: nama bank, nomor rekening, dan nama pemilik. Buka aplikasi bank, ketik angkanya, beres. Sesama bank gratis, dan lewat HP bahkan transfer antarbank biayanya hampir nol atau gampang digratiskan. Kamu bisa kirim sampai satuan won, jadi bagi tagihan setelah hoesik kelar dalam sekejap: ada yang taruh nomor rekening di grup KakaoTalk, semua transfer bagiannya, selesai. Namanya juga kota yang nggak pernah tidur, tengah malam pun duitnya langsung masuk.
Di sinilah orang asing biasanya kaget. Di Jepang, transfer ke bank lain dulu butuh kode cabang dan jenis rekening, dan lama banget cuma diproses di jam kerja hari biasa. Di Prancis, wajar kalau butuh sehari buat mendaftarkan penerima dan sehari lagi buat memproses transfernya. Makanya pemandangan Korea bayar di kasir toko pakai transfer susah dibayangkan di sana. Bahkan toko kecil di lingkungan sepi ada yang nggak pakai mesin pembayaran, cukup tempel nomor rekening dan terima transfer.
Tips kecil nih. Catatan yang muncul di mutasi rekening penerima bakal kepotong di sekitar enam atau tujuh karakter, tergantung banknya. Jadi kalau kirim uang duka pakai kalimat belasungkawa yang panjang, bisa-bisa cuma setengahnya yang kebaca. Lebih aman tulis nama dulu, misalnya 'Hong Gildong uang duka', lalu kabari lewat chat. Makin banyak juga orang yang langsung transfer di tempat kalau lupa bawa amplop ke kondangan. Amplop putih chuguigeum pelan-pelan berubah jadi nomor rekening.
Bayar langsung setelah ketemuan jual beli barang bekas, pasang autodebet bulanan ke jeokgeum, sampai bayar deposit jeonse yang nilainya ratusan juta won, semuanya jalan di atas sistem ini. Masalahnya, buat buka rekening dan login ke aplikasi kamu butuh verifikasi identitas dan nomor HP Korea, jadi ini salah satu rintangan pertama buat orang yang baru tinggal di Korea.