decodeK

Internetnya ngebut

KataTeknologiKeseharianIndustriInti

Sinyal nyambung di rumah, di subway, bahkan di puncak gunung. Ini salah satu hal pertama yang bikin orang kaget waktu sampai di Korea.

Awalnya akhir tahun 90-an. Tahun 1998 internet broadband kabel masuk ke rumah-rumah, setahun kemudian ADSL lewat kabel telepon. Kecepatannya lebih dari 100 kali modem dial-up yang dipakai sebelumnya, beneran revolusi. Akhir 2000-an, operator gencar menarik fiber optik sampai ke dalam rumah di seluruh negeri, dan jaringan itulah yang jadi internet gigabit sekarang.

Kenapa Korea bisa secepat itu? Jawaban klasiknya: negaranya kecil dan orang-orangnya tinggal berdempetan di kompleks apartemen. Pasang kabel sekali di satu kompleks, ratusan rumah langsung online, apalagi gedungnya mirip semua jadi pemasangannya makin gampang. Timing-nya juga pas. Setelah krisis IMF, banyak orang yang kena PHK buka PC bang karena modalnya kecil, sementara pemerintah mendorong IT sebagai jalan keluar. Lalu musim gugur 1998 StarCraft dan Lineage meledak, membuka era PC bang dan pro gamer, yang ujungnya jadi esports ala Korea.

Ambisinya berlanjut di ponsel. April 2019, tiga operator Korea mengumumkan peluncuran komersial 5G pertama di dunia, dan Galaxy S10 5G dari Samsung hadir sebagai HP 5G pertama. Tapi di awal base station-nya masih kurang, jadi banyak keluhan 5G malah lebih lemot dari LTE, sampai ada yang mematikannya.

Kehidupan sehari-hari berjalan di atas kecepatan itu. Nonton drakor di subway tanpa buffering, pesan makan lewat aplikasi delivery, bayar tanpa uang tunai. War tiket konser ditentukan dalam hitungan detik, jadi internet rumah itu ibarat senjata tempur.