decodeK

Kenapa apartemen Korea mirip semua

KataHunianArsitekturInti

Pertama kali lihat kota di Korea, kamu bakal nemu barisan apartemen putih yang bentuknya sama persis, nggak ada habisnya. Ini hasil dari zaman yang harus bangun cepat, murah, dan banyak, ditambah obsesi nasional sama rumah yang menghadap selatan.

Bentuk itu punya nama: pansang-hyeong, tipe 'lempeng'. Ruang tamu dan kamar dijejerin sebaris, bangunannya cuma melebar ke samping tanpa nambah kedalaman, jadi dari jauh mirip kotak korek api yang diberdiriin. Ini gambaran pertama orang Korea kalau dengar kata 'apartemen'. Jendelanya ada di depan dan belakang jadi angin bisa lewat, desainnya simpel dan murah, dan kalau semua unit dihadapkan ke arah yang sama, semuanya kebagian sinar matahari. Di dunia properti Korea, menghadap selatan itu artinya duit: di kompleks yang sama dengan luas yang sama, unit lantai atas yang menghadap selatan paling mahal.

Dulu nggak begini. Beberapa apartemen awal tahun 1960 sampai 1970-an sempat niru gaya Eropa dengan lorong di tengah dan kamar numpuk di satu sisi, tapi dianggap boros tempat dan nggak cocok sama gaya hidup orang Korea, jadi ditinggal. Yang bertahan adalah denah dengan ruang tamu di tengah dan kamar mengelilinginya, mirip banget sama hanok, lengkap dengan pemanas lantai ondol versi modern. Dari akhir 1980-an sampai pertengahan 2000-an, pertumbuhan ekonomi kilat dan proyek kota baru besar-besaran bikin apartemen lempeng setinggi sekitar 20 lantai menyebar ke seluruh negeri. Kebanyakan apartemen tua yang kamu lihat sekarang dibangun di masa itu.

Kekurangannya jelas. Fasadnya datar, dan cuma gedung paling depan yang dapat pemandangan; yang di belakang cuma lihat punggung gedung depan. Pas gedungnya makin tinggi, julukan 'kotak korek api' diganti jadi 'wafer' dan 'Jenga'. Mulai akhir 2000-an, pengembang bersaing lewat merek apartemen, fasad dipercantik, lampu hias dipasang, dan tower bentuk Y atau T yang punya jendela ke banyak arah, juga susunan V atau L, jadi umum. Kompleks merek besar yang dibangun setelah 2015 hampir semuanya udah lepas dari bentuk kotak korek api.

Tapi kerangkanya nggak banyak berubah. Orang Korea masih sedikit lebih suka tipe lempeng yang anginnya tembus, dan kompleks lama nunggu giliran dibangun ulang. Film Concrete Utopia milih satu gedung apartemen yang tersisa setelah gempa besar sebagai latarnya, karena kotak-kotak kembar inilah tempat semua ambisi orang Korea numpuk.