
dancheong (단청)
Dancheong itu seni lukis tradisional Korea berupa motif warna-warni di tiang kayu, atap, dan langit-langit istana serta kuil. Kalau istana di drakor saeguk kelihatan meriah banget, ya ini penyebabnya.
Palet dasarnya biru, merah, kuning, putih, dan hitam, alias lima warna obangsaek. Pigmen klasiknya dari mineral dan hasilnya doff, jadi warnanya tetap keluar walau kena cahaya dari belakang. Fungsinya juga bukan cuma buat cantik: catnya melindungi kayu dari serangga dan lembap, sekaligus nutupin retakan kayu pinus yang jadi favorit tukang Korea. Biasanya dicat ulang tiap 30 sampai 40 tahun.
Ada tingkatannya. Cat polos satu warna dipakai di bangunan khidmat seperti Kuil Jongmyo; istana pakai moro dancheong, motif ramai cuma di ujung-ujung balok. Tingkat paling mewah namanya geum dancheong, dan geum di sini artinya sutra, bukan emas: bagian tengah balok pun diisi penuh kayak sulaman. Plot twist-nya, level tertinggi ini justru dipakai kuil Buddha, bukan istana raja. Makanya aula utama Haeinsa lebih heboh daripada Gyeongbokgung atau Changdeokgung. Coba ikut templestay terus lihat ke atas, kerasa banget padatnya.
Joseon yang menjunjung kesederhanaan Konfusianisme membatasinya dengan keras. Tahun 1429 di masa Raja Sejong, rumah pribadi dilarang pakai cat merah, lalu kitab hukum negara menetapkan hukuman 80 pukulan tongkat buat yang pakai pigmen pekat di luar kuil. Makanya hanok biasa kelihatan kayunya polos. Ada catatan pejabat berkuasa yang tetap ngecat rumahnya lalu dimakzulkan karena dianggap bermewah-mewahan.
Fakta zaman sekarang: sampai tahun 1990-an, warna hijau giok khas dancheong dibuat dari Paris green yang mengandung arsenik, akhirnya diganti pigmen lain. Beberapa pertapaan kecil malah pakai stiker motif dancheong. Para pelukis ahlinya, dancheongjang, diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional, salah satu bidang di mana orangnya sendiri yang jadi warisan.
Satu perdebatan yang wajib diketahui fans saeguk: restorasi dan set drama sering asal pakai dancheong gaya Joseon untuk era apa pun, dan komunitas sejarah suka mengkritik ini. Tiang merah dengan dinding putih itu umum di era Tiga Kerajaan dan Goryeo, gaya yang dulu dipakai bareng Korea, China, dan Jepang, tapi sekarang warna merah doang udah cukup bikin orang bilang 'kok kayak Jepang'. Drama 2009 Queen Seondeok termasuk yang jarang berani menampilkan gaya merah-putih itu.