tonggeun jiok (통근 지옥)
Tinggal di luar Seoul dan menghabiskan dua sampai tiga jam sehari di jalan. Ini struktur yang dibentuk harga rumah, jadi di drakor, lama perjalanan kerja seseorang langsung jadi penanda kelas sosialnya.
Mulai dari angka. Lebih dari separuh penduduk Korea menumpuk di wilayah ibu kota, dan lapangan kerja terpusat di tengah Seoul. Karena tiap pagi orang membanjir dari Gyeonggi dan Incheon, jam sibuk subway di sana terkenal parah. Makanya ada julukan 'kereta neraka', bahkan lelucon getir 'angkutan ternak'. Jalur 2 yang melingkar, Jalur 4 antara Nowon dan Stasiun Seoul, dan Jalur 9 yang cuma enam gerbong adalah langganan neraka. Gimpo Goldline dibangun dengan peron untuk dua gerbong demi hemat biaya, jadi sepadat apa pun, gerbongnya nggak bisa ditambah.
Kenapa tinggal sejauh itu? Jawabannya selalu rumah. Yang nggak sanggup bayar apartemen atau jeonse di Seoul terdorong satu stasiun lebih jauh, dan perjalanannya makin panjang. Sekarang ada juga yang tinggal di kota lain dan naik KTX ke Seoul, bahkan dari Daegu atau Gimcheon. Sebaliknya juga ada: PNS yang tinggal di Seoul naik kereta cepat ke kompleks pemerintahan di Sejong. Bus merah ekspres yang antreannya sudah mengular sebelum subuh juga bagian dari pemandangan ini.
Ada teori seru juga. Fisikawan Italia Cesare Marchetti bilang secepat apa pun transportasinya, waktu pulang pergi kerja orang akan mentok di sekitar satu jam, soalnya kalau jalan makin cepat, orang pindah makin jauh. Seoul Raya jelas udah jauh melewati itu.
Capeknya meresap ke budaya pop. Di My Liberation Notes, tiga bersaudara menempuh perjalanan super panjang tiap hari dari pinggiran Gyeonggi ke Seoul, dan perjalanan itu yang membentuk suasana seluruh drama. Webtoon scroll vertikal yang enak dibaca satu tangan juga tumbuh di gerbong yang penuh sesak. Tambah lembur, dan work-life balance jadi barang mewah. Tiap anak muda Korea ngomongin Hell Joseon, kereta yang penuh sesak ini selalu ada di gambarnya.