saturi (사투리)
Bahasa Korea versi tiap daerah. Intonasinya beda jauh sampai orang yang belajar bahasa Korea dari buku pun bingung di awal, dan di drakor satu baris dialog sudah cukup buat nunjukin asal dan sifat karakternya.
Kalau ikut kamus, saturi cuma bagian dialek yang beda dari bahasa baku, tapi dalam kehidupan nyata orang Korea menyebut semuanya, logat, kosakata, dan gaya ngomong, sebagai 'saturi'. Makanya kata 'satoori' dipakai apa adanya di kalangan fans internasional. Yang paling besar: logat Gyeongsang dari Busan dan Daegu, logat Jeolla dari Gwangju dan Mokpo, logat Chungcheong yang terkenal santai, dan bahasa Jeju yang kadang dianggap bahasa tersendiri. Bahkan di Gyeongsang pun Busan dan Daegu beda, jadi kalau drama menyamaratakan satu wilayah pakai logat Busan, orang Daegu agak sebel. Asal katanya juga seru: kata 'satori' pertama kali tercatat di catatan kerajaan Raja Myeongjong tahun 1549.
Lama banget saturi di Korea dianggap sesuatu yang harus 'dibenerin'. Sekolah mengajarkan bahasa baku sebagai cara ngomong yang 'benar dan sopan', dan di Jeju pernah ada masa murid dihukum karena pakai bahasa lokal. Aturan penyiaran membatasi dialek di siaran sampai 2004. Baru setelah pasal itu dihapus, Institut Nasional Bahasa Korea mulai survei dialek se-Korea, dan sekarang banyak orang malah sengaja pakai saturi yang kental sebagai ciri khas. Di tengah pemusatan ke wilayah ibu kota yang bikin semuanya numpuk di Seoul, cara ngomong jadi tanda paling jelas soal asal kamu. Nggak heran logat orang langsung berubah begitu berangkat mudik pas libur besar.
Kalau kamu suka nonton drakor, pasti pernah lihat obrolan soal akting pakai dialek. Reply 1997 berlatar di Busan, jadi para pemeran utamanya ngobrol pakai logat Busan dari awal sampai akhir, dan logat asli Jung Eun-ji yang memang orang Busan jadi bahan omongan. Our Blues dan When Life Gives You Tangerines menggambarkan kehidupan Jeju pakai bahasa Jeju. Masalahnya, telinga orang lokal paling susah dibohongi. Buat orang luar kedengarannya meyakinkan, tapi buat mereka langsung ketahuan 'orang Seoul lagi niruin'. Makanya seberapa natural aktor bawain saturi jadi salah satu poin penilaian akting. Sebaliknya, kalau terlalu jadul, anak muda setempat bakal bilang sekarang udah nggak ada yang ngomong begitu.
Buat pembelajar bahasa Korea, saturi itu tembok yang nggak bisa ditembus nilai TOPIK setinggi apa pun. Akhiran jondaenmal dan banmal pun bentuknya beda-beda tiap daerah, jadi subtitle dan terjemahan otomatis gampang kehilangan nuansanya. Para penerjemah juga selalu pusing mau pakai dialek daerah mana buat menerjemahkan logat daerah di karya asing.