
Daegu
Kota besar di tenggara Korea yang duduk di cekungan dikelilingi gunung. Musim panasnya panas banget sampai dijuluki 'Daefrica', dan kota ini dikenal lewat chimaek, makchang, dan logat Gyeongsang yang nadanya jatuh tajam.
Namanya dulu ditulis 大丘 yang artinya 'bukit besar', tapi di akhir era Joseon huruf 丘 diganti karena itu nama Konfusius. Nama lamanya, Dalgubeol, masih dipakai buat nama jalan dan sekolah. Diapit Gunung Palgong di utara dan Gunung Biseul di selatan, panasnya kejebak di dalam cekungan, makanya lelucon Afrika itu jadi meme nasional. Tiap ada berita soal malam tropis, Daegu hampir pasti nongol.
Cara ngomongnya juga bagian dari identitas kota ini. Orang Daegu pakai dialek Gyeongsang, tapi beda sama Busan: intonasinya turun tajam dari atas ke bawah. SUGA BTS lahir di Taejeon-dong, Distrik Buk, dan legenda folk Kim Kwang-seok juga lahir di Daebong-dong, Daegu.
Ini kota industri dengan sejarah panjang. Tahun 1938 Lee Byung-chul membuka Samsung Sanghoe di Bukseong-ro, toko yang jadi cikal bakal Samsung. Puluhan tahun Daegu jadi kota tekstil dan salah satu mesin Keajaiban Sungai Han, dan pas tekstil meredup, kota ini sampai harus ganti branding. Daegu juga termasuk yang paling kerasa efek ibu kota yang nyedot orang dan lapangan kerja. Nama jalan kayak Dongseong-ro, pusat keramaian utama sekarang, Bukseong-ro dan Namseong-ro ngikutin bekas tembok benteng Daegu yang dibongkar tahun 1906.
Soal makanan, Daegu itu kota ayam. Beberapa merek ayam goreng nasional, termasuk Kyochon, lahir di sini, dan sejak 2013 tiap musim panas ada festival chimaek di Taman Duryu, pantes disebut tanah suci chimaek. Tren makchang juga mulai dari sini, begitu juga mandu pipih Pasar Seomun dan ttaro gukbap.
Ada juga bab yang menyakitkan. Kebakaran kereta bawah tanah tahun 2003 masih terus disebut tiap Korea ngomongin keselamatan publik. Dan di musim semi 2020, klaster besar di awal pandemi COVID-19 bikin Daegu sempat jadi wilayah dengan kasus terbanyak di Korea.