decodeK
Kim Kwang-seok

Kim Kwang-seok

OrangFolkLegend

Penyanyi-penulis lagu yang merekam isi hati orang Korea tahun 90-an cuma pakai gitar akustik dan suara yang bergetar. Dia meninggal tahun 1996, tapi lagu-lagunya masih jadi soundtrack tiap orang Korea yang makin tua.

Lahir di Daegu, dia pindah ke Seoul sekitar umur lima tahun dan besar di Changsin-dong. Waktu SMP dia belajar biola di klub musik gesek dan waktu SMA ikut paduan suara, tapi karena kondisi ekonomi keluarga, dia kuliah manajemen, bukan musik. Seminar ilmu sosial di kampus bikin dia sempat galau berat, sampai akhirnya ketemu lagu-lagu yang bukan lagu cinta ala radio, tapi lagu yang ditujukan ke dunia. Dari situ dia mulai bermusik di klub nyanyi antarkampus. Tahun 1984 dia ikut proyek album Kim Min-ki, pencipta Morning Dew, dan koneksi ini nantinya membawa dia ke kelompok People Seeking Songs. Setelah tampil di konser perdana mereka musim gugur 1987, dia jadi langganan di aksi-aksi gerakan demokratisasi.

Jalan masuknya ke industri musik itu kebetulan. Dia dan teman-temannya iseng rekam kaset buat dibagi-bagi, lalu Kim Chang-wan dari Sanullim dengar dan bilang, ayo bikin album beneran. Album grup Dongmulwon yang lahir dari situ nggak diharapkan apa-apa, tapi malah laris. Debut solonya tahun 1989 lewat begitu saja, tapi 'Though I Loved You' dan 'Because of Love' dari album kedua tahun 1991 bikin dia jadi bintang. Album cover Sing Again tahun 1993 memicu demam remake di pop Korea, dan album keempatnya tahun 1994 berisi 'Get Up', 'Where the Wind Blows', 'A Love Too Painful Was Not Love', plus Around Thirty.

Markas dia adalah teater-teater kecil di Daehangno. Saking seringnya manggung, dia dijuluki 'Ttohae' alias 'lagi?', padahal dia sendiri lebih suka dipanggil 'Hae', artinya 'terus'. Mulai Juli 1991, dia tembus pertunjukan ke-1.000 di teater Hakchon pada Agustus 1995, kira-kira satu show tiap dua hari. Penontonnya campur, dari cewek umur 20-an, pekerja kantoran, sampai pasangan lansia umur 60-an, dan konser-konsernya dianggap yang bikin budaya teater kecil Daehangno mengakar. Di dinding luar Hakchon sampai sekarang masih ada prasasti lagunya.

Dia bukan penyanyi teknik. Dia jaga tempo pakai kaki, nyanyi dengan mulut yang nyaris nggak kebuka, dan cuek sama aturan vokal buku teks. Yang dia punya adalah suara yang bergetar kayak orang lagi nahan tangis, bukan vibrato hasil latihan, dan sampai sekarang nggak ada yang bisa niru persis. Orang Korea punya satu lagunya untuk tiap fase hidup: 'A Private's Letter' sebelum masuk wamil, 'Though I Loved You' habis putus, 'Around Thirty' pas mau kepala tiga, 'Story of an Old Couple in Their Sixties' di masa senja. Kalau orang asing nanya perasaan itu apa, kata yang biasanya muncul adalah han, dan momen ruang noraebang tiba-tiba jadi serius biasanya karena lagunya.

Konser di New York bulan November 1995 jadi panggung terakhirnya, dan dia meninggal pada 6 Januari 1996 di usia 32 tahun. Justru setelah dia pergi, namanya makin besar. Park Chan-wook memakai 'A Private's Letter' dan 'An Unsent Letter' di film Joint Security Area (2000), dan tahun 2011 ada iklan operator seluler yang menghidupkan dia lewat CGI untuk duet 'Around Thirty' bareng IU. Episode Hidden Singer tentang dia, yang dibuat dengan merestorasi rekaman analognya secara digital, jadi episode nomor satu yang paling ingin ditonton ulang pemirsa. Upaya-upaya berikutnya untuk menghidupkan suaranya pakai AI bikin dia jadi contoh pertama yang disebut dalam debat suara AI.

Di samping Pasar Bangcheon di Daegu, tempat dia lahir, dibuka Kim Kwang-seok Street tahun 2010, gang sekitar 350 meter penuh mural dan patung yang di akhir 2010-an didatangi hampir 1,5 juta orang per tahun. Untuk ulang tahun ke-50 kelahirannya pada 2013, tiga musikal jukebox dari lagu-lagunya dipentaskan sekaligus. Musisi yang gayanya beda jauh kayak Sung Si-kyung, Park Hyo-shin, dan Chang Kiha ngaku mengidolakan dia, dan Jang Beom-jun dari Busker Busker sering disebut penerus garis folk-nya. Dia juga pernah tampil di siaran terbuka Starry Night, acara radio yang dibawakan Lee Moon-sae, dan keduanya dikenang sebagai dua kutub pop Korea era 80-an dan 90-an: Lee di balada, Kim di folk. Dengan Korea yang menua super cepat, generasi yang tumbuh bareng lagu-lagunya sekarang mulai sampai di usia pasangan lansia 60-an itu.