
Park Chan-wook
Sutradara di balik Oldboy, The Handmaiden, dan Decision to Leave. Nggak ada yang memfilmkan balas dendam dan cinta terlarang seindah dia, makanya namanya jadi yang pertama dipanggil festival dunia kalau bicara film Korea.
Lahir di Seoul tahun 1963, Park kuliah filsafat di Universitas Sogang. Dulu dia anak humaniora yang introvert dan sama sekali nggak kepikiran bikin film, sampai suatu libur musim dingin dia nonton Vertigo karya Hitchcock di pemutaran kampus dan langsung berubah pikiran. Dia langsung bikin klub film. Waktu jadi asisten sutradara, dia menulis skenario bareng sutradara Kwak Jae-yong di ruang belakang toko rental video milik Kwak, sekalian jaga toko waktu Kwak keluar mengantar kaset.
Awal kariernya berantakan. Film debutnya tahun 1992 yang dibintangi penyanyi Lee Seung-chul dan film keduanya tahun 1997 sama-sama gagal, baik di box office maupun di mata kritikus. Katanya, dia tinggal selangkah lagi didepak dari industri. Selama itu dia menulis kritik film dan membuka toko rental video bareng temannya Jo Yeong-wook, yang kelak jadi penata musik langganannya. Koleksi kaset langkanya banyak banget sampai para cinephile menganggapnya sinematek mini. Sebagai kritikus dia pernah mewawancarai Quentin Tarantino yang datang promo ke Seoul, dan waktu mereka ketemu lagi di Cannes bertahun-tahun kemudian, Tarantino heboh: jadi itu kamu?
Titik baliknya datang dari film pendek hitam-putih tahun 1999. Dana itu awalnya buat Kim Jee-woon, yang batal karena jadwal. Seorang produser yang menonton film pendek itu lalu menyerahkan naskah yang sudah lama terlantar di industri, dan jadilah Joint Security Area (2000). Bertahun-tahun nggak dikenal, selesai dalam semalam. Setelah itu lahir trilogi balas dendam: Sympathy for Mr. Vengeance, Oldboy, dan Lady Vengeance. Dia memilih Choi Min-sik karena kerutan wajahnya yang penuh cerita dan tatapan yang tajam tapi manusiawi. Oldboy meraih Grand Prix Cannes dan menaruh film Korea di peta dunia; ada akademisi yang bilang film ini melakukan untuk Korea apa yang Rashomon lakukan untuk Jepang. Hollywood sampai membuat ulang film ini. Di Lady Vengeance dia membalik citra suci Lee Young-ae, dan sejak film ini dia menulis skenario bareng Jeong Seo-kyeong, yang namanya selalu muncul lebih dulu di kredit.
Thirst memenangkan Jury Prize Cannes tahun 2009, lalu tahun 2013 dia masuk Hollywood lewat Stoker yang dibintangi Nicole Kidman. Perusahaannya, Moho Film, juga ikut memproduksi Snowpiercer karya Bong Joon-ho. The Handmaiden (2016) memindahkan novel Fingersmith karya Sarah Waters ke Korea di masa penjajahan Jepang, dan yang menyuruhnya mengadaptasi novel itu adalah istrinya. Film ini memperkenalkan pendatang baru yang lolos dari 1.500 pelamar dan menang BAFTA untuk film berbahasa non-Inggris. Setahun kemudian, saat menerima grand prize di Baeksang Arts Awards, dia bicara soal masyarakat tanpa diskriminasi karena gender, identitas gender, atau orientasi seksual. Tahun 2022, Decision to Leave membawanya jadi Sutradara Terbaik di Cannes dan mengukuhkan julukan 'Cannes Park'. Bahkan Cahiers du Cinéma yang biasanya pedas ke dia kali ini memuji habis-habisan. Tahun 2026 dia jadi orang Korea pertama yang memimpin juri Cannes.
Filmnya sadis, tapi orangnya penakut banget. Dia pernah kabur dari bioskop di tengah film horor, dan waktu syuting Lady Vengeance dia sampai menutup mulut biar nggak teriak melihat adegannya sendiri. Aktris Kim Ok-bin bilang dia 'kayak kakak perempuan'. Di industri film Korea ada lelucon soal tiga kebohongan terbesar Chungmuro: Park yang bilang 'kali ini film hiburan yang beneran seru', Lee Chang-dong yang bilang 'naskahnya sudah selesai', dan Hong Sang-soo yang bilang 'kali ini aku mau istirahat'. Bareng Bong, Ryoo Seung-wan, dan Kim Jee-woon, dia punya geng sutradara bernama 'Pamer dan Gibah'. Waktu Bong menunjukkan draf Memories of Murder, Park mengusulkan judul 'Kalau Nggak Menyerahkan Diri, Tangan Kakimu Bakal Membusuk', dan Bong jelas protes. Geng yang sama itu juga pernah masuk daftar hitam budaya pemerintah. Sebelum Parasite, Oldboy bisa dibilang film Korea paling terkenal di dunia, dan dua sutradara ini adalah poros masa keemasan film Korea. Satu yang belum dia punya: film sepuluh juta penonton, meski katanya dia selalu yakin film berikutnya bakal tembus.
Di luar film dia juga seru. Dia sama sekali nggak nonton Piala Dunia 2002 lalu mengakuinya di gereja, dan pastornya memberi penitensi nonton ulang semua pertandingan masing-masing tiga kali. Dia fotografer serius yang selalu bawa Leica dan sudah menerbitkan buku foto; bareng adiknya, seniman media Park Chan-kyong, dia menang Golden Bear film pendek di Berlin lewat film yang direkam pakai iPhone. Dia langganan konser musik klasik dan pernah menonton keempat resital Cho Seong-jin dalam satu bulan. Pencinta naengmyeon ala Pyongyang, katanya bagian terberat syuting di luar negeri adalah nggak bisa makan naengmyeon. Motto keluarganya, yang dia karang spontan buat PR anaknya, kira-kira artinya 'kalau nggak, ya sudah'.