decodeK

Musim panas 2002

Kejadian2002-06OlahragaAlun-alun2002Inti

Musim panas ketika Korea jadi tuan rumah Piala Dunia bareng Jepang dan tembus sampai semifinal. Jutaan orang berkaus merah turun ke jalan buat teriak bareng, dan pemandangan itu mengubah total cara orang Korea menonton olahraga.

Piala Dunia FIFA ke-17 berlangsung 31 Mei sampai 30 Juni 2002. Ini Piala Dunia pertama di Asia sekaligus yang pertama digelar dua negara. Karena awalnya dua-duanya mau jadi tuan rumah tunggal, masing-masing tetap bangun sepuluh stadion, jadinya ini Piala Dunia dengan stadion terbanyak sepanjang sejarah. Soal nama pun sempat ribut: Jepang dapat final di Yokohama, Korea dapat urutan depan di nama resmi 'Korea/Japan', tapi menjelang turnamen panitia Jepang malah membalik urutannya dan jadi drama. Tuan rumah bersama ini memikul semua ketegangan hubungan Korea-Jepang, pas di masa Korea lagi pelan-pelan membuka pintu untuk budaya pop Jepang.

Targetnya sebenarnya sederhana: lolos 16 besar untuk pertama kali. Tim yang belum pernah menang satu laga pun di putaran final Piala Dunia malah mengalahkan Polandia dan Portugal lalu jadi juara grup, kemudian menyingkirkan Italia lewat golden goal di perpanjangan waktu. Pencetak golnya, Ahn Jung-hwan, waktu itu main di klub Italia Perugia, dan beneran dilepas klubnya gara-gara gol itu. Di perempat final Spanyol tumbang lewat adu penalti. Kalah dari Jerman di semifinal dan dari Turki di perebutan tempat ketiga, Korea finis di posisi empat. Biografi pelatih Guus Hiddink menguasai rak buku terlaris, dan para pemain dapat pembebasan wajib militer.

Bintang yang sebenarnya ada di tribun dan di jalanan. Suporter Red Devils membentangkan mozaik kartu raksasa tiap laga: 'AGAIN 1966' lawan Italia, 'PRIDE OF ASIA' lawan Spanyol, dan 'Mimpi jadi nyata' lawan Jerman, kalimat yang sampai sekarang langsung bikin orang Korea ingat 2002. Di luar stadion, Gwanghwamun, alun-alun Balai Kota, dan alun-alun di seluruh negeri jadi lautan merah. Buat orang-orang yang beberapa tahun sebelumnya babak belur karena krisis IMF, teriak 'Dae-han-min-guk!' bareng-bareng itu pelepasan yang luar biasa, dan kumpul di alun-alun nggak lagi cuma buat demo. Pas lagu kebangsaan diputar, polisi yang jaga kerumunan pun berhenti sebentar buat hormat, orang-orang lari sambil berselimut Taegeukgi, dan bukannya hooligan, yang ada malah kerumunan yang membersihkan sampahnya sendiri setelah nobar. Dari sinilah lahir budaya kumpul di alun-alun dan cara orang Korea nonton olahraga, dan chimaek, ayam goreng plus bir, ikut menyebar bareng pesta jalanan itu. FIFA sampai terkesan banget dan mulai bikin Fan Fest resmi sejak 2006. Fakta lucu: FIFA bahkan narik biaya siaran buat nobar layar raksasa di luar ruangan. Korea ngedumel tapi bayar. Jepang nggak bayar dan nggak nobar.

Bahasanya juga berubah. Teks TV dan koran mulai pakai nama resmi lengkap 'Daehan Minguk', bukan sekadar 'Hanguk', sekitar babak semifinal. Momen gukppong versi awal juga bertebaran. Di laga perebutan tempat ketiga, suporter Korea membentangkan bendera Turki raksasa untuk lawannya, terbawa cerita 'negara saudara', dan orang Turki masih mengenangnya sampai sekarang.

Soal musik, lagu suporter menang telak dari lagu resmi. Lagu pilihan FIFA hampir nggak dilirik di negara tuan rumah, dan lagu g.o.d di album resmi juga nggak meledak. Yang menguasai jalanan justru 'Oh Pil-seung Korea' dari Yoon Do-hyun Band dan lagu-lagu Clon. Tim tamu juga meninggalkan cerita legendaris: timnas Spanyol ikut penerjemahnya ke PC bang dan kaget sama kecepatan internetnya, pemain Brasil ketagihan noraebang dan mesin dance di arkade, dan kiper Jerman Oliver Kahn jatuh cinta sama susu kedelai Vegemil sampai katanya mengirim satu kardus ke rumah. Karena penginapan kurang, kuil Buddha mulai menerima tamu asing, makanya musim panas ini dianggap awal mula Templestay.

Ini pertama kalinya Korea memamerkan dirinya ke seluruh dunia dengan volume penuh, dan rasa percaya diri itu nyambung langsung ke gelombang Hallyu setelahnya. Dua puluh tahun kemudian, waktu Son Heung-min, yang tahun 2002 masih anak SD, memakai ban kapten di Piala Dunia Qatar, orang-orang kembali turun ke alun-alun.