Turun ke alun-alun
Kalau ada kejadian besar, orang Korea turun ke Gwanghwamun atau Yeouido. Bawa lilin atau lightstick, ikut nyanyi bareng lagu dari panggung, suasananya lebih mirip acara dengan format sendiri daripada demo biasa.
Tradisi lilin ini lebih tua dari yang kamu kira. Waktu gerakan Juni 1987, kelompok agama sudah menggelar aksi lilin di Katedral Myeongdong dan gereja-gereja. Di belakangnya ada ingatan tentang Gwangju 1980, dan lagu-lagu yang dinyanyikan di alun-alun waktu itu, Morning Dew dan March for the Beloved, sampai sekarang masih jadi lagu wajib aksi. Titik baliknya tahun 2002: tahun itu ada aksi lilin pertama yang dikumpulkan lewat opini internet, bukan oleh organisasi tertentu. Musim panas yang sama, nobar jalanan Piala Dunia bikin ratusan ribu orang teriak bareng di alun-alun, dan berkumpul di sana nggak lagi identik dengan demo saja.
Sejak itu, alun-alun selalu penuh di momen-momen besar: kesepakatan impor daging sapi 2008, aksi duka tragedi Sewol 2014, lalu musim gugur 2016, saat skandal Choi Soon-sil terbongkar dan orang-orang berbaris dari Cheonggyecheon ke Lapangan Gwanghwamun. Aksinya berlangsung tiap minggu selama berbulan-bulan dan berakhir dengan pemakzulan, pencopotan presiden, dan pemilu baru. Semuanya tanpa kekerasan, sampai Washington Post menulis bahwa Korea Selatan baru saja menunjukkan ke dunia cara berdemokrasi. Di sisi lain, ada juga aksi tandingan yang mengibarkan taegeukgi.
Perlengkapannya juga terus berubah. Lilin bertudung gelas kertas diganti lilin LED yang nggak padam kena angin, dan setelah darurat militer Desember 2024, kerumunan di depan gedung parlemen di Yeouido dipenuhi lightstick idol. Fandom nggak cuma bawa lightstick, tapi juga slogan dan nyanyi bareng massal. Begitu Into the New World diputar dari panggung, semua ikut nyanyi, dan itu sekarang sudah jadi bagian dari naskahnya. Alun-alun Korea adalah tempat marah, tapi juga pesta demokrasi yang anehnya tertib dan penuh musik.