Perjuangan Demokrasi Juni
Juni 1987, setelah terbongkar bahwa pemerintah menutupi kematian seorang mahasiswa akibat penyiksaan, rakyat Korea turun ke jalan sampai rezim militer menyerah dan mengembalikan pemilihan presiden langsung. Inilah bulan lahirnya demokrasi Korea modern.
Pemicunya terjadi bulan Januari. Park Jong-chul, mahasiswa Universitas Nasional Seoul, tewas saat disiksa dengan air di pusat interogasi polisi. Polisi bilang dia kena serangan jantung waktu petugas menggebrak meja, alasan yang saking konyolnya jadi terkenal. Dokter yang dipanggil ke lokasi, Oh Yeon-sang, menolak ikut merekayasa seolah-olah dia meninggal di rumah sakit, dan infonya bocor ke wartawan. Rezim menghukum beberapa polisi lalu ingin kasusnya selesai. Lalu tanggal 13 April, Presiden Chun Doo-hwan mengumumkan reformasi konstitusi ditunda sampai setelah Olimpiade, dan presiden berikutnya dipilih lewat sistem tidak langsung yang lama. Buat rakyat yang pengin banget milih langsung, ini kayak menyiram bensin ke api.
Plot twist-nya datang dari penjara. Aktivis Lee Bu-young, yang ditahan dekat sel para polisi penyiksa, mendengar mereka mengeluh kalau cuma mereka yang disalahkan. Dia menulis semuanya di tisu dan menyelundupkannya keluar lewat sipir. Tanggal 18 Mei, di misa peringatan tujuh tahun Pemberontakan Gwangju, Asosiasi Imam Katolik untuk Keadilan membongkarnya: polisi yang terlibat ternyata lebih banyak, dan atasan mereka sengaja menutupinya. Tanggal 27 Mei, oposisi yang tadinya tercerai-berai akhirnya bersatu dalam satu markas gerakan nasional.
Tanggal 9 Juni, di depan Universitas Yonsei, mahasiswa Lee Han-yeol kena tabung gas air mata di kepala yang ditembakkan lurus ke arah demonstran. Foto teman kampus yang bahkan nggak kenal dia menopang tubuhnya yang berdarah muncul di halaman depan New York Times dan koran Korea. Lee nggak pernah sadar lagi.
Besoknya, 10 Juni, aksi besar digelar di pusat kota Seoul dan di seluruh negeri. Kali ini bukan cuma mahasiswa. Pekerja kantoran umur 30 sampai 40-an, yang dijuluki pasukan dasi, ikut turun. Ironisnya, blokade pemerintah malah bikin jalanan makin penuh. Klakson bus dan taksi dicopot biar nggak ada demo klakson, kereta bawah tanah nggak berhenti di stasiun pusat kota, dan perusahaan diminta memulangkan karyawan lebih awal. Nggak bisa pulang, dan karena daylight saving time langit masih terang, para pekerja pun ikut demo. Pemilik warung membagikan gimbap, dan ada yang menyelipkan mawar ke tameng polisi anti huru-hara.
Demonstran yang dikejar berlindung di katedral Myeongdong. Kardinal Kim Sou-hwan bilang kalau polisi mau menangkap mahasiswa, mereka harus melangkahi dia dulu, lalu para pastor, lalu para biarawati. Dengan Olimpiade Seoul 1988 di depan mata dan negara-negara Katolik ikut menonton, menyerbu katedral bukan pilihan. Amerika Serikat juga jelas-jelas menentang darurat militer dan pengerahan tentara.
Rezim akhirnya menyerah. Tanggal 29 Juni, calon presiden partai penguasa Roh Tae-woo mengumumkan pemilihan langsung diterima. Hari itu sebuah kedai kopi di Seoul memasang tulisan kurang lebih: hari ini hari bahagia, minuman gratis, dan fotonya belakangan masuk buku pelajaran. Lee Han-yeol meninggal 5 Juli; di pemakamannya tanggal 9 Juli hampir sejuta orang memadati alun-alun depan Balai Kota Seoul, dan sebagian massa bergerak ke arah Gwanghwamun. Itu kumpulan massa terbesar sejak republik berdiri.
Bulan Oktober, konstitusi baru disahkan lewat referendum. Dari sinilah lahir masa jabatan presiden tunggal lima tahun yang masih berlaku sampai sekarang, sekaligus Mahkamah Konstitusi. Makanya orang Korea menyebut tatanan politik sekarang sistem 1987. Tapi akhirnya nggak mulus. Di pilpres Desember, tokoh oposisi Kim Young-sam dan Kim Dae-jung sama-sama maju, suara terpecah, dan Roh menang dengan 36,64%. Ada yang menyebutnya kemenangan setengah.
Meski begitu, rezim militer tumbang oleh gerakan massa yang sebagian besar damai, dan Juni 1987 dianggap titik balik demokratisasi Korea. Lagu seperti Morning Dew bergema di era protes itu, dan cara menyelesaikan krisis nasional dengan turun ke alun-alun berawal dari sini. Tiga puluh tahun kemudian, aksi lilin memakai cara yang sama untuk melengserkan presiden.
Buat penggemar hallyu, pintu masuk paling gampang adalah film. 1987: When the Day Comes mengikuti runtuhnya penutupan kasus Park Jong-chul, dibintangi Kim Yoon-seok, Ha Jung-woo, dan Kim Tae-ri. The Attorney yang dibintangi Song Kang-ho mengangkat pengadilan politik awal 80-an dan membawa ujung ceritanya ke jalanan era ini. Lalu drakor Snowdrop, yang berlatar Seoul 1987, sudah dikritik keras bahkan sebelum tayang karena cara menggambarkan gerakan demokrasi. Dari situ kelihatan betapa sensitif dan berharganya memori ini buat orang Korea.