The Attorney
Busan awal 1980-an: pengacara pajak yang cuma peduli uang nekat membela mahasiswa yang disiksa, lalu berubah jadi orang yang beda banget. Tokohnya jelas mirip sosok nyata, jadi debat politik sudah panas sebelum rilis, dan filmnya tetap tembus sepuluh juta penonton.
Song Woo-seok nggak punya koneksi, nggak punya duit, nggak punya ijazah kampus bergengsi. Tapi lewat urusan balik nama properti dan konsultasi pajak, dia jadi pengacara paling laris di Busan, sampai dilirik perusahaan konstruksi besar. Semua berubah waktu Jin-woo, anak pemilik warung gukbap langganannya, ditangkap cuma karena ikut klub baca dan muncul di sidang dalam keadaan babak belur. Song Kang-ho jadi si pengacara, sementara Im Si-wan yang awalnya idol memerankan Jin-woo. Adegan dia bersaksi dengan badan penuh memar bikin banyak orang mulai serius melihatnya sebagai aktor.
Kerangkanya adalah kasus Burim tahun 1981: 22 anak muda yang saling pinjam buku ilmu sosial ditangkap tanpa surat perintah, disiksa, lalu didakwa. Salah satu pengacara yang membela mereka gratis adalah Roh Moo-hyun, yang kelak jadi presiden, dan produser serta penulis naskahnya sama-sama mengakui tokoh utama terinspirasi dari dia. Daya tarik utamanya ada di ruang sidang. Song mengeluarkan telegram dari Kedutaan Inggris untuk membela buku What Is History? karya E. H. Carr yang dicap subversif, lalu membalas dengan Pasal 1 Konstitusi: "Negara itu adalah rakyat." Potongan adegan itu masih beredar jadi meme, begitu juga kalimat Jin-woo soal batu yang sekuat apa pun tetap mati dan telur yang serapuh apa pun tetap hidup.
Endingnya diambil dari kejadian nyata setelah Perjuangan Demokrasi Juni. Waktu Roh ditahan karena terlibat kasus kematian seorang buruh, 99 pengacara Busan mendaftar jadi pembelanya dan meminta hakim memanggil nama mereka satu per satu di ruang sidang. Film ini menjadikan momen absen itu klimaksnya.
Song Kang-ho awalnya menolak. Katanya yang bikin dia ragu bukan politik, tapi apakah dia bisa memerankan hidup orang itu dengan layak. Begitu dia setuju, investasi yang tadinya macet langsung jalan. Tahun itu dia sudah sukses lewat Snowpiercer dan The Face Reader, dan dengan film ini dia jadi aktor pertama yang mengumpulkan sekitar 30 juta penonton dalam setahun. Ini debut film panjang sutradara Yang Woo-suk, mantan penulis cerita webtoon, dan kisahnya sendiri awalnya dirancang sebagai webtoon. Setelah pemutaran khusus, Park Chan-wook kasih rekomendasi dengan muka masih bengkak habis nangis, dan Bong Joon-ho serta Kim Jee-woon ikut muncul di video rekomendasinya.
Dengan bujet 7,5 miliar won, film ini menjual 230 ribu tiket di hari pertama dan masuk klub film sepuluh juta penonton pada 18 Januari 2014, dengan total akhir sekitar 11,37 juta. Film ini menyabet Film Terbaik di Baeksang Arts Awards dan Blue Dragon Film Awards. Fun fact: ceritanya di Busan, tapi banyak adegan diambil di Daejeon.
Di Hong Kong judulnya kurang lebih berarti "pengacara yang melawan kekuasaan", dan waktu A Taxi Driver dan 1987: When the Day Comes dapat judul senada di sana, fans menganggap ketiganya satu trilogi. Peserta Gerakan Payung 2014 juga menyebut film ini.
Setelah rilis, ada harga yang harus dibayar. Distributornya kena audit pajak habis-habisan, dan sutradara, Song Kang-ho, serta Jung Woo-sung yang ikut mendukung produksi masuk daftar hitam budaya. Belakangan terungkap kepala staf kepresidenan waktu itu pernah bertanya kenapa perusahaan yang bikin film begini nggak dikenai sanksi. Sementara itu, para korban asli kasus Burim dinyatakan bebas dari semua dakwaan lewat sidang ulang dua bulan setelah film rilis, dan Mahkamah Agung menguatkannya tahun itu juga. Setahun kemudian Ode to My Father dibaca dari kubu politik yang berlawanan, dan keduanya jadi dua kutub perdebatan soal film yang menggugat.