The Face Reader
Seorang pembaca wajah yang bisa menebak isi hati orang cuma dari mukanya terseret ke tengah perebutan takhta Joseon. Film sageuk 2013 ini ditonton 9,13 juta orang dan meninggalkan satu kalimat legendaris: “Apa aku punya wajah seorang raja?”
Latarnya kudeta 1453 di Joseon, saat Pangeran Agung Suyang, calon Raja Sejo, merebut kekuasaan dari keponakannya, raja cilik Danjong. Ke dalam sejarah nyata itu, film ini memasukkan tokoh fiksi, pembaca wajah jenius bernama Kim Nae-gyeong, jadi ini sageuk fiksi sejarah banget. Nae-gyeong (Song Kang-ho) sembunyi di gunung karena keluarganya dicap pengkhianat, tinggal bareng adik iparnya Paeng-heon (Cho Jung-seok) dan anaknya Jin-hyeong (Lee Jong-suk). Lalu Yeon-hong (Kim Hye-soo), gisaeng paling top di ibu kota, membujuknya ke Hanyang. Yeon-hong terkenal jago membaca wajah, padahal sebenarnya cuma peka baca situasi. Setelah Nae-gyeong berhasil menunjuk pembunuh asli hanya dari wajah, menteri Kim Jong-seo merekrutnya, dan Raja Munjong yang sakit menitipkan putranya yang masih kecil. Naskah awalnya pemenang lomba skenario 2010; sutradara Han Jae-rim mengadaptasinya, mengubah Yeon-hong dari laki-laki jadi gisaeng dan menambahkan tokoh Paeng-heon.
Film ini ganti genre begitu Suyang muncul. Paruh pertama komedi sageuk yang jenaka. Lalu Lee Jung-jae masuk dengan slow motion berbalut bulu hitam, dan semuanya berubah jadi thriller politik yang bikin tegang. Adegan masuknya ini sering disebut salah satu entrance karakter terbaik di film Korea, dan katanya menghabiskan puluhan juta won. Uniknya, film tentang wajah ini justru nggak menunjukkan wajah para tokoh utama di kemunculan pertama mereka. Nae-gyeong dan Kim Jong-seo dari belakang, Suyang cuma kakinya, jadi kamu “membaca” mereka dari cara jalan dulu. Lee pengin banget peran ini, sampai waktu Kim Hye-soo bercanda mau main jadi Suyang pakai kostum pria, dia beneran panik. Fakta lucu: Lee dan Suyang sama-sama dari klan Jeonju Yi. Suyang putra kedua Raja Sejong, sementara Lee keturunan kakak Sejong.
Klimaksnya ironis sampai nyesek. Setelah kudeta, Jin-hyeong tetap memihak Danjong, dan Nae-gyeong yang mati-matian mau menyelamatkannya menunduk di depan Suyang sambil bilang dia punya wajah raja. Suyang tertawa, bilang siapa pun bisa ngomong begitu setelah dia sudah jadi raja, lalu langsung memanah Jin-hyeong di tempat. Paeng-heon hancur persis seperti ramalan Nae-gyeong soal wajahnya yang gampang meledak. Di akhir, Nae-gyeong bilang ke ahli strategi Han Myeong-hoe (Kim Eui-sung) bahwa takdirnya kehilangan kepala. Han hidup dalam ketakutan seumur hidup, dan ramalan itu baru terbukti setelah dia meninggal, saat sejarah mencatat jasadnya dipenggal. Sutradaranya mengonfirmasi Nae-gyeong sengaja nggak menyebut bagian “setelah mati”.
Trailernya juga jadi favorit fans. Di teaser karakter, film ini pura-pura “membaca wajah” tiap aktor sambil memparodikan karya hits mereka: Lee Jung-jae dapat “dunia baru harta dan jodoh”, Baek Yoon-sik ditakdirkan jadi jagoan walau jadi penjudi (nyindir Tazza), dan Cho Jung-seok dapat kalimat soal nggak gampang nyerah kalau belum yakin, kode ke karakter Nap-deuk di Architecture 101. Kalimat-kalimat itu langsung masuk koleksi dialog legendaris.
Box office-nya meledak. Dalam tiga hari tembus 1,13 juta, mengalahkan pembukaan Masquerade yang waktu itu sageuk nomor satu, dan ditutup dengan 9.135.922 penonton. Memang nyaris tapi gagal jadi film sepuluh juta, tapi tetap masuk jajaran sageuk terlaris setelah The Admiral: Roaring Currents, Masquerade, dan The King and the Clown. Kritikus biasa aja, penonton suka banget. Masquerade, The Face Reader, dan The Admiral yang sukses beruntun memicu tren judul sageuk dua suku kata, dan studio yang sama kemudian bikin The Princess and the Matchmaker dan Feng Shui sebagai trilogi ramalan. Kalau ingat betapa lumrahnya dukun dan saju di Korea sampai sekarang, wajar kalau cerita soal takdir yang tertulis di wajah ini kena banget.
Akurasi sejarah? Longgar dan nggak malu-malu. Anjing pemburu Suyang itu German shepherd, ras abad ke-20, dan gayageum sanjo yang dimainkan di rumah gisaeng baru muncul akhir 1800-an. Main-main jadi raja terang-terangan seperti Suyang di film pasti langsung dianggap makar di dunia nyata. Sempat juga versi Netflix kehilangan teks penutup soal nasib Han Myeong-hoe, jadi maknanya kebalik, tapi sekarang sudah diperbaiki. Di Jepang, film ini rilis 2014 dengan judul Kansoshi.