
Masquerade
Gimana kalau pas Raja Gwanghae lagi tumbang, ada badut yang mukanya plek ketiplek sama dia duduk di singgasana? Cuma dari premis itu, film kolosal 2012 ini narik lebih dari 12 juta penonton.
Titik awalnya adalah celah di catatan sejarah. Di buku harian resmi istana tahun kedelapan pemerintahan Gwanghae, ada sekitar lima belas hari yang kosong, dan film ini bertanya: gimana kalau selama itu negara dipimpin raja palsu? Sutradaranya Choo Chang-min. Raja yang parno karena ancaman racun menyuruh sekretaris utamanya, Heo Gyun, mencari pemeran pengganti. Heo nemu Ha-seon, badut yang bikin tamu mabuk di rumah gisaeng ngakak dengan lawakan nakal. Lalu sang raja pingsan karena obat, dan Ha-seon harus hidup sebagai penguasa Joseon bukan cuma semalam, tapi berminggu-minggu. Dia belajar kilat mulai dari cara bicara, cara jalan, sampai cara memimpin rapat istana, dan istana mulai heboh begitu si pengganti mulai bersuara dengan caranya sendiri. Bonus permainan kata: ganti satu konsonan akhir di "Gwanghae" dan jadilah "gwangdae", bahasa Korea untuk badut.
Mesin utama film ini adalah Lee Byung-hun. Dia memerankan Gwanghae yang gampang meledak sekaligus Ha-seon yang berhati lembut, dan kritikus bilang dia sebenarnya main tiga peran kalau dihitung Ha-seon yang pura-pura jadi raja. Makeup-nya juga dibedain: cuma Gwanghae yang punya kerutan tajam di bawah mata. Dia dapat naskah ini waktu lagi syuting film Hollywood, barengan sama dua proyek noir yang berat, dan tanpa ragu ninggalin dua-duanya demi peran kolosal pertamanya. Hasilnya jadi film dengan penonton terbanyak sepanjang kariernya. Ryu Seung-ryong jadi Heo Gyun, Han Hyo-joo jadi ratu, plus Shim Eun-kyung, Kim In-kwon, dan Jang Gwang yang bikin jajaran pemainnya solid banget.
Yang paling nempel itu dialognya. Adegan Ha-seon membentak para menteri yang maksa dia kirim pasukan buat Dinasti Ming, bilang nyawa rakyatnya jauh lebih berharga daripada setia ke negara besar, masih masuk daftar momen terbaik film Korea. Di ujung lain ada adegan dia nyodorin yeot, permen lengket khas Korea, ke Heo Gyun sambil bilang "makan yeot", yang dalam bahasa Korea juga berarti umpatan kasar. Subtitle internasionalnya pakai "Suck it", dan sutradaranya ngaku kagum karena dua maknanya kena. Film ini juga detail banget soal kehidupan istana, dari cara memanggil raja, rapat pagi, sampai toilet portabel khusus raja, jadi fans sageuk ikut kepincut.
Di box office, rekornya pecah terus. Di hari terakhir libur Chuseok saja ada sekitar 740 ribu penonton, dan sebulan lebih setelah rilis dia jadi film sepuluh juta penonton ketujuh dalam sejarah Korea. Setelah itu dia nyalip Silmido, Haeundae, dan Tae Guk Gi satu per satu, lalu pas Natal mengalahkan The King and the Clown dan jadi film kolosal terlaris. Totalnya sekitar 12,32 juta penonton, nomor dua di tahun itu setelah The Thieves, dan memegang gelar film kolosal nomor satu sampai The Admiral: Roaring Currents datang di 2014. Di Grand Bell Awards dia menyapu 15 piala. Tapi kritik juga ada: CJ, yang memproduksi sekaligus mendistribusikan, dituduh memajukan tanggal rilis dan memonopoli layar, dan banyak yang bilang ceritanya terlalu mirip film Hollywood Dave tahun 1993.
Perdebatan sejarahnya juga rame. Di film, reformasi besar dan diplomasi hati-hati di antara Ming dan negara Jurchen yang sedang naik justru datang dari raja palsu, bukan Gwanghae asli. Tapi potongan adegan itu tersebar sendiri-sendiri, dan banyak yang bilang itu bikin publik mengira Gwanghae benar-benar raja yang bijak. Lokasi syutingnya juga campur aduk: lari dari Gyeongbokgung, eh nyampenya di paviliun di Namwon, padahal di zaman Gwanghae istana itu masih berupa puing dan raja sebenarnya tinggal di Changdeokgung. Ryu Seung-ryong kemudian muncul lagi sebagai Heo Gyun di My Love from the Star yang latarnya zaman yang sama. Tahun 2019 film ini dibuat ulang jadi drakor tvN The Crowned Clown, dibintangi Yeo Jin-goo dan Lee Se-young.