decodeK
The King and the Clown

The King and the Clown

Judul2005-12FilmDrama kolosal10 juta penontonQueer

Film sejarah tahun 2005 garapan Lee Joon-ik. Dua badut jalanan masuk ke istana raja tiran Yeonsan, bikin dia ketawa, lalu malah terjebak dalam bahaya. Tanpa bintang papan atas dan tanpa distributor besar, film ini tetap tembus sepuluh juta penonton.

Latarnya Joseon di era Yeonsan-gun, raja paling tiran dalam sejarah dinasti itu. Jang-saeng (Kam Woo-sung), jagoan titian tali dan satire, bareng Gong-gil (Lee Joon-gi), badut cantik yang selalu kebagian peran perempuan, ditangkap gara-gara bikin pertunjukan yang ngeledek raja dan selirnya, Jang Nok-su, di pasar Hanyang. Sambil dipukuli, Jang-saeng cuma punya satu argumen: kalau raja ketawa, berarti bukan penghinaan dong. Di pertunjukan hidup-mati di depan raja semua orang membeku, sampai Gong-gil improvisasi satu lelucon pas banget, raja (Jung Jin-young) ngakak, dan rombongannya malah tinggal di istana. Gong-gil yang asli cuma muncul beberapa baris di catatan sejarah kerajaan, dan drama panggung yang jadi sumber film ini ngisi kekosongan itu pakai imajinasi, mirip cara Jewel in the Palace tumbuh dari segelintir catatan.

Tawanya cepat berubah jadi darah. Waktu para badut mementaskan opera Peking yang ngingetin raja sama kematian ibunya, Ratu Yun yang digulingkan, Yeonsan langsung lepas kendali. Makin besar obsesinya ke Gong-gil, makin retak juga hubungan Jang-saeng dan Gong-gil. Adegan singkat raja mencium Gong-gil yang lagi tidur itu nggak ada di naskah. Jung Jin-young cuma ngasih tahu sutradara lalu improvisasi, dan Lee Joon-gi beneran kaget. Jung juga berhenti baca buku soal Yeonsan di tengah jalan karena isinya negatif semua dan dia takut aktingnya jadi klise. Hasilnya, raja yang kejam tapi sekaligus kayak anak kecil yang haus kasih sayang. Fakta seru: awalnya Lee Joon-gi pengin peran raja, dan dari segi umur dia justru lebih dekat ke Yeonsan yang asli.

Film ini ngangkat perasaan antara laki-laki secara terang-terangan, tapi nama perasaannya diserahin ke penonton. Obsesi raja kebaca kayak kekurangan kasih sayang, sementara rasa sayang Jang-saeng ke Gong-gil kebaca lebih dalam dari sekadar persahabatan. Film komersial Korea tahun 2005 yang ngumpulin 12,3 juta penonton dengan cerita begini jelas jadi tonggak dalam perjalanan cerita LGBT sampai ke layar, makanya sering disebut barengan sama The Handmaiden.

Box office-nya udah kayak legenda. Mulai cuma di 313 layar, tembus sepuluh juta di hari ke-45, dan ditutup dengan 12.302.831 penonton, film cheonman dengan jumlah layar paling sedikit sepanjang masa. Film ini mecahin rekor penonton terbanyak film Korea dan jadi film ketiga yang lewat garis itu sejak angka sepuluh juta lahir. Nggak ada bintang besar, nggak ada distributor raksasa, genrenya sageuk yang mahal pula. Di rapat investasi enam dari tujuh orang nolak, dan katanya Kang Woo-suk yang waktu itu mimpin Cinema Service tetap maju sambil bilang kalau rugi ya tinggal balikin modal dari film lain.

Budaya fans baru juga lahir dari sini. Nonton film yang sama berkali-kali di bioskop nyebar lewat fan café, sampai ada yang pamer bukti nonton 46 kali. Lee Joon-gi jadi bintang dalam semalam dan mancing tren cowok cantik alias flower boy. Badut kocak Yuk-gap diperankan Yoo Hae-jin. Film ini nyapu kategori utama di Blue Dragon, Baeksang, dan Grand Bell, termasuk Daesang film di Baeksang Arts Awards.

Reputasinya juga awet. Kritikus Lee Dong-jin naruh film ini di urutan ketiga film sepuluh juta paling berkualitas, tepat setelah Parasite dan The Host. Di ranking box office film sejarah, posisinya masih di papan atas bareng The Admiral: Roaring Currents dan Masquerade. Setelah rilis, "orangnya raja" jadi istilah sindiran politik buat kroni terdekat presiden. Dialog terakhir di atas tali antara Jang-saeng yang udah buta dan Gong-gil, "aku di sini, kamu di sana?", sampai sekarang masih sering dikutip. Film ini salah satu judul yang paling mewakili masa keemasan film Korea di pertengahan 2000-an.