The Handmaiden
Korea masa penjajahan, tahun 1930-an: seorang pencopet menyamar jadi pelayan untuk membantu menipu seorang pewaris kaya, tapi kedua perempuan itu malah saling mengelabui lalu jatuh cinta. Film Park Chan-wook tahun 2016 ini memindahkan novel Inggris ke Asia dan memberinya ending yang nggak ada di bukunya.
Ini film panjang kesepuluh Park Chan-wook, diadaptasi dari Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar London era Victoria. Awalnya Park mau syuting di Inggris dalam bahasa Inggris, tapi begitu tahu sudah ada adaptasi yang setia ke novelnya, dia memindahkan ceritanya ke Korea dan Jepang di masa penjajahan Jepang. Paspor yang muncul di film menunjukkan tahunnya 1932. Naskahnya ditulis bareng Jeong Seo-kyeong, dan distribusinya dipegang CJ.
Ceritanya permainan tipu-tipu empat orang. Seorang count palsu yang diperankan Ha Jung-woo menyusupkan pencopet Sook-hee (Kim Tae-ri) ke rumah pewaris Hideko (Kim Min-hee), yang dikuasai pamannya sekaligus walinya, Kouzuki (Jo Jin-woong), si maniak buku. Plot twist-nya juga ada di latar tokoh. Si count ternyata penipu Korea asal Jeju bernama Go Pan-dol, dan Kouzuki adalah kolaborator Korea yang sampai ganti nama biar jadi orang Jepang. Tapi ada adegan dia makan naengmyeon, mi dingin Korea, yang sengaja dimasukkan Park: sekagum apa pun sama Jepang, lidah tetap lidah Korea. Park sendiri penggila naengmyeon Pyongyang.
Filmnya dibagi tiga bagian. Bagian pertama cukup setia ke novel, bagian kedua membalik semuanya, dan bagian ketiga paling jauh dari aslinya. Waters katanya sempat bilang setelah baca naskah kalau “terinspirasi dari” lebih pas daripada “berdasarkan”, tapi setelah filmnya rilis dia menyebutnya gila dalam arti bagus dan nonton sampai tiga kali. Banyak juga yang menyorot bahwa cinta dua perempuan ini nggak digambarkan sebagai sesuatu yang dikucilkan masyarakat, tapi ya cinta, gitu aja. Kalimat “Penyelamatku yang datang untuk menghancurkan hidupku. Tamako-ku, Sook-hee-ku” masih jadi yang paling sering dikutip fans.
Judulnya pun punya maksud. Di buku naskahnya Park menulis bahwa dia ingin mengembalikan keindahan kata Korea agassi, “nona”, yang sudah dikotori om-om. Judul Inggrisnya malah menonjolkan si pelayan, jadi di Korea yang jadi judul adalah si nona dan di luar negeri si pelayan, supaya dua tokoh utamanya setara.
Buat Kim Tae-ri, ini debut layar lebarnya. Aktris teater yang belum dikenal itu menyisihkan sekitar 1.500 pelamar untuk dapat peran ini. Karena dialog bahasa Jepangnya banyak banget, para pemain ikut les khusus, dan bahasa Jepang Kim Tae-ri serta Jo Jin-woong sampai bikin wartawan Jepang kagum. Bahasa Jepang Ha yang kaku justru pas, karena count-nya memang orang Korea yang pura-pura. Ha yang hobi kasih julukan di lokasi syuting memanggil Kim Tae-ri “Taeriyaki”.
Cerita di balik layarnya seru. Rumah besar yang katanya bahkan di Jepang pun nggak ada itu disyuting di Rokkaen, Kota Kuwana, Prefektur Mie, dan sayap bergaya Barat-nya diganti CG. Perpustakaan raksasa Kouzuki dibangun di studio yang sama tempat set department store film Assassination, film yang juga dibintangi Ha, Jo, dan Kim Hae-sook. Untuk adegan ranjang, Park mengoperasikan kamera dari jarak jauh supaya kru di lokasi seminimal mungkin.
Tahun 2016 film ini jadi film Korea pertama dalam empat tahun yang masuk kompetisi utama Cannes, dan penata artistik Ryu Seong-hee memenangkan Vulcan Award, pertama kalinya penghargaan itu jatuh ke bidang tata artistik. Di Korea penontonnya sekitar 4,29 juta dan balik modal. Kritikus Amerika Utara heboh banget sampai ada yang menyebutnya karya terbaik Park sejak Oldboy, dan tahun 2018 film ini jadi film Korea pertama yang menang BAFTA untuk Film Berbahasa Non-Inggris. Di Blue Dragon Film Awards, Kim Min-hee menang Aktris Terbaik dan Kim Tae-ri Aktris Pendatang Baru Terbaik dari film yang sama, pertama kalinya di ajang itu, dan Park membawa pulang Daesang film di Baeksang Arts Awards.
Film ini juga punya fandom yang jarang dimiliki film Korea: berkat permintaan fans, buku naskah yang tadinya nggak direncanakan akhirnya terbit dan versi extended sekitar 20 menit lebih panjang diputar resmi di bioskop. Film ini sering disebut bareng The King and the Clown sebagai titik balik perasaan sesama jenis di film komersial Korea, dan jadi bab penting dalam sejarah cerita queer yang akhirnya sampai ke layar. Film panjang Park berikutnya adalah Decision to Leave.