Assassination
Shanghai dan Gyeongseong (Seoul zaman kolonial) tahun 1933, dan seorang penembak jitu pejuang kemerdekaan yang dikirim untuk menghabisi para kolaborator. Film ini mengubah masa penjajahan jadi film genre yang seru banget dan ditonton 12,7 juta orang.
Titik awalnya nyata: ceritanya terinspirasi rencana tahun 1932 untuk membunuh Ugaki Kazushige, gubernur jenderal Jepang di Korea. Di film, Pemerintah Sementara memilih tiga orang yang wajahnya belum dikenal pihak Jepang: Ahn Ok-yun (Jun Ji-hyun), penembak jitu dari Manchuria; Big Gun (Jo Jin-woong), lulusan akademi militer; dan Hwang Deok-sam, ahli bom. Targetnya komandan tentara Kawaguchi Mamoru dan kolaborator super kaya Kang In-guk. Yang merekrut mereka adalah Yeom Seok-jin (Lee Jung-jae), kepala biro kepolisian yang dipercaya Kim Gu, sementara pembunuh bayaran berjuluk Hawaii Pistol (Ha Jung-woo) dibayar mahal buat memburu mereka.
Sutradara Choi Dong-hoon dari dulu lebih jago di dialog tajam dan karakter nyentrik daripada pesan berat, jadi dia menggarap masa penjajahan Jepang ala film heist. Kritikus mengeluhkan plotnya yang bolong-bolong. Penonton justru nggak peduli: bisa menikmati perjuangan kemerdekaan sebagai film blockbuster, bukan dokumenter yang kaku, rasanya baru. Film atau drakor bertema ini yang sukses besar jarang banget, paling orang cuma nyebut Mr. Sunshine.
Nama-namanya punya makna. Ahn Ok-yun diambil dari satu suku kata nama tiga pahlawan kemerdekaan: Ahn Jung-geun, Kim Sang-ok, dan Yun Bong-gil. Awalnya mau dinamai 'Yun-ok', tapi sama dengan nama mantan ibu negara, jadi urutannya dibalik. Kalimat Yeom 'kalau nggak bisa menggigit, jangan menggonggong' berasal dari kolaborator Yun Chi-ho, yang memakai peribahasa Inggris itu di buku hariannya untuk mengejek Gerakan 1 Maret. Jun Ji-hyun juga memerankan saudari kembar Ok-yun, dan peran gandanya dapat pujian besar.
Kalau kamu hafal filmografi para aktornya, easter egg-nya bertebaran. Adegan Ha Jung-woo dan Jun Ji-hyun pura-pura jadi suami istri di hotel mengingatkan ke 'The Berlin File', tempat mereka memang main jadi pasangan. Kalimat Jo Jin-woong 'aku jalan sampai akhir' nyindir filmnya 'A Hard Day', yang judul Koreanya berarti persis itu. Fans juga bercanda kalau Lee Jung-jae dan Lee Geung-young, pemeran Kang In-guk, kena karma dosa kolaborator dengan menderita bareng di New World. Cho Seung-woo muncul sebagai cameo khusus memerankan tokoh perlawanan Kim Won-bong, sosok yang lama dihindari film Korea karena setelah merdeka dia pergi ke Utara. Dia bahkan improvisasi melafalkan kata 'target' ala tahun 1930-an.
Perjalanan box office-nya dramatis. Rilis 22 Juli 2015, film ini menarik 950 ribu penonton dalam sehari, rekor harian kedua setelah The Admiral: Roaring Currents. Lalu pagi 15 Agustus, tepat 70 tahun Hari Pembebasan, film ini tembus sepuluh juta penonton seolah sudah diatur. Choi mencetak dua film sepuluh juta berturut-turut, menyusul The Thieves, dan Ha Jung-woo dapat film sepuluh juta pertamanya. Totalnya sekitar 12,7 juta, sempat duduk di peringkat 7 sepanjang masa sebelum disalip Veteran di tahun yang sama. Film ini juga menang Film Terbaik di Blue Dragon Film Awards dan penghargaan film terbaik di Baeksang Arts Awards.
Cerita di balik layarnya juga banyak. Di hari rilis, kabar kehamilan Jun Ji-hyun keluar dan langsung menenggelamkan berita soal filmnya. Seorang novelis menuduh plagiat dan minta pemutaran dihentikan, tapi pengadilan menolaknya dalam waktu kurang dari sebulan. Jalanan tahun 1930-an dibangun dari nol di set raksasa di Shanghai dan Goyang, dan tahun 2016 film ini tayang resmi di Jepang dengan dubbing pengisi suara terkenal.
Endingnya lompat ke pengadilan kolaborator tahun 1949. Seorang pengkhianat dibebaskan karena kurang bukti, lalu akhirnya pelatuk ditarik juga. Adegan ini menyentuh luka lama di Korea: rasa bahwa urusan masa penjajahan nggak pernah benar-benar dituntaskan. Setahun kemudian The Age of Shadows mengangkat era yang sama dengan nuansa berbeda, dan benang merah Ahn Jung-geun nantinya bersambung ke Harbin.