decodeK
Haeundae

Haeundae

Judul2009-07FilmBencana10 juta penonton

Film bencana tahun 2009 tentang tsunami raksasa yang menghantam Pantai Haeundae di Busan pas lagi puncak musim liburan. Ini film bencana buatan Korea pertama yang tembus sepuluh juta penonton.

Sutradaranya Yoon Je-kyoon, yang bangga bilang konsepnya dimatangkan lima tahun, dengan bujet 16 miliar won dan deretan pemain kelas berat: Sol Kyung-gu, Ha Ji-won, Park Joong-hoon, dan Uhm Jung-hwa. Ceritanya dibuka dengan tsunami Samudra Hindia 2004. Mansik, warga asli Haeundae yang waktu itu ikut kapal penangkap ikan, kehilangan ayah Yeonhee dalam kejadian itu. Rasa bersalah bikin dia nggak pernah berani nembak Yeonhee. Di sisi lain, ahli geologi Kim Hwi memperingatkan kalau laut di sekitar Tsushima mulai mirip Indonesia lima tahun sebelumnya. Nggak ada yang mau dengar. Lalu Tsushima ambles, dan gelombang raksasa melaju ke pantai yang penuh turis. Waktunya tinggal sepuluh menit.

Film ini rilis 22 Juli 2009 dan akhirnya ditonton 11.453.338 orang, angka yang belum pernah dicapai film bencana Korea. Di wilayah Yeongnam saja penontonnya 3,36 juta, rekor lokal sampai The Admiral: Roaring Currents muncul. Memang tipis kalah dari Tae Guk Gi, tapi tetap masuk daftar cheonman setelah The Host. Sempat ada tuduhan film ini memonopoli layar, padahal puncaknya cuma 764 layar, peringkat keempat tahun itu, dan malah laris bareng film olahraga Take Off.

Reviewnya terbelah banget. Yang suka memuji karena film ini nggak pakai pahlawan ala Hollywood, tapi warga Busan yang berisik, logatnya kental, dan hidupnya relate. Yang nggak suka menyorot CGI ombak yang kaku dan pola lucu di awal lalu nangis dipaksa di akhir. Porsinya kira-kira 80% drama dan 20% bencana, dan ada yang bilang kesuksesannya bikin industri film Korea percaya rumus komedi plus melodrama pasti laku. Tapi tetap saja, adegan Sol Kyung-gu minum sampo karena dikira obat maag sampai mulutnya berbusa bikin satu bioskop ngakak.

Orang Busan punya bahan roasting sendiri. Judulnya Haeundae, tapi banyak adegan diambil di sekitar Gwangalli, dan rute kabur para tokohnya, kalau dicek di peta asli, malah lari menyusuri pantai ke arah ombak. Waktu syuting, sebagian penghuni apartemen di Haeundae protes karena takut harga properti turun kalau gedung mereka ditampilkan tenggelam. Akhirnya logo apartemen dihapus dan bentuk beberapa gedung diubah. Warga tetap bisa ngenalin, dan ada yang ke bioskop cuma buat ngecek rumahnya kena ombak atau nggak.

Buat penggemar liga bisbol Korea, adegan di Stadion Sajik itu legendaris. Yoon, fans berat Lotte Giants, syuting pas pertandingan sungguhan bulan Agustus 2008. Sol memerankan penonton mabuk yang rese dengan sangat meyakinkan, sampai Lee Dae-ho, bintang Lotte yang jadi cameo, beneran emosi dan teriak-teriak di luar naskah. Sol datang minta maaf habis pertandingan, tapi katanya Lee masih kesal lumayan lama. Malam itu Lotte bangkit dari ketinggalan 0-5 dan menang sepuluh kali beruntun. Makanya ada candaan bahwa sepuluh juta penonton itu berkat orang Busan dan fans Lotte.

Di Jepang film ini rilis tahun 2010 dengan judul TSUNAMI. Begitu gempa Tohoku terjadi tahun 2011, toko rental menarik DVD-nya sendiri dari rak. Video YouTube yang cuma berisi adegan tsunaminya sudah ditonton lebih dari 300 juta kali, jadi film ini punya kehidupan kedua di luar Korea. Setelah sukses, Yoon dikritik karena bilang syuting di Korea menguntungkan karena upah pekerjanya murah. Di film berikutnya, Ode to My Father, dia menerapkan kontrak kerja standar untuk semua kru. Beberapa tahun kemudian Train to Busan juga tembus sepuluh juta, dan Busan resmi jadi panggung favorit film blockbuster Korea.