
Train to Busan
Wabah zombi pecah di dalam satu rangkaian kereta cepat KTX yang melaju dari Seoul ke Busan. Film blockbuster zombi pertama Korea ini tembus sepuluh juta penonton di negaranya dan bikin K-zombie dikenal di seluruh dunia.
Sutradaranya Yeon Sang-ho, yang sebelumnya dikenal lewat animasi dewasa yang kelam seperti The King of Pigs dan The Fake. Ini film live action pertamanya. Awalnya studio mau bikin versi live action dari animasinya, Seoul Station, tapi karena animasi itu sudah jalan produksinya, dia menolak dan malah menawarkan cerita lanjutannya dalam skala blockbuster. Jadilah dua film ini saudara yang nyambung secara longgar, dan setelah sekuel Peninsula (2020) keluar, fans menyebut semestanya Yeon-niverse.
Premisnya simpel. Seok-woo (Gong Yoo), manajer investasi yang gila kerja, naik kereta subuh bareng putrinya, Su-an, buat mengantarnya ke ibunya di hari ulang tahunnya. Satu penumpang yang terinfeksi naik tepat sebelum kereta berangkat, dan dalam hitungan menit gerbong-gerbong berubah jadi kekacauan. Ma Dong-seok jadi Sang-hwa yang menerobos gerombolan zombi cuma pakai tinju, Jung Yu-mi jadi istrinya yang sedang hamil, Seong-kyeong, dan Choi Woo-shik jadi Yeong-guk, pemain bisbol SMA. Di kubu seberang ada Yong-seok, eksekutif perusahaan bus yang tega mendorong siapa saja demi selamat sendiri. Kim Eui-sung memerankannya dengan meyakinkan banget, sampai dia yang memikul pesan utama film ini: manusia bisa lebih seram daripada zombi.
Cerita di balik layarnya juga seru. Pihak KTX nggak mau kasih cetak biru kereta karena alasan keamanan, jadi tim artistik naik kereta sendiri dan mengukur semuanya manual. Kereta 18 gerbong dipangkas jadi set lima gerbong, dan kursinya diambil dari kereta Mugunghwa bekas yang dilapis ulang. Layar LED di luar jendela bikin para aktor bisa berakting seolah keretanya benar-benar melaju. Gerakan zombi yang patah-patah dirancang koreografer, dan banyak figurannya b-boy dan penari. Dari situlah lahir gelombang zombi yang menumpuk kayak longsoran. Fakta seru: sepanjang film nggak ada satu tokoh pun yang menyebut kata zombi. Waktu Gong Yoo, Ma Dong-seok, dan Jung Yu-mi lagi kumpul sebelum syuting, mereka juga kebetulan papasan dengan member Running Man yang sedang syuting, dan momen itu ikut tayang.
Di sinilah aturan zombi ala Korea terbentuk. Yang terinfeksi larinya kencang banget, tapi nggak bisa buka pintu, langsung buta begitu gelap, dan super peka sama suara. Makanya setiap kali kereta masuk terowongan, itu jadi momen buat atur strategi, dan lorong, rak bagasi, sampai pintu antargerbong KTX semuanya jadi arena aksi. Rutenya mengikuti jalur asli lewat Cheonan-Asan, Daejeon, dan Dongdaegu menuju Busan. Buat penonton Korea, kereta yang biasa mereka naiki pas mudik mendadak jadi jebakan maut.
Angkanya gila. Film ini tayang perdana Mei 2016 di Midnight Screenings Festival Film Cannes dan dapat tepuk tangan selama sepuluh menit (film zombi di Cannes). Di hari pertama rilis bulan Juli, penontonnya tembus lebih dari 860 ribu, rekor pembukaan terbesar di Korea saat itu. Di hari ke-19 tembus sepuluh juta dan jadi film cheonman pertama tahun 2016. Totalnya sekitar 11,57 juta penonton, nomor satu tahun itu. Titik impasnya sekitar 2,8 juta, jadi modalnya balik cuma dalam tiga hari. Di luar Korea juga meledak di Taiwan, Hong Kong, Filipina, Malaysia, dan Singapura, dan di Vietnam jadi film Korea terlaris sampai disalip Parasite.
Yang bikin penonton luar negeri kaget justru sinpa, gaya bikin nangis khas film Korea. Sebagian kritikus Korea bilang babak akhirnya klise, tapi buat penonton Barat, orang dewasa yang tumbang dengan pesan terakhir “cepat lari” terasa lebih menohok daripada kepahlawanan ala Hollywood. Skornya di Rotten Tomatoes ada di kisaran 90-an persen. Adegan terakhir, Su-an menyanyikan Aloha ʻOe di terowongan yang gelap gulita, masih jadi momen yang paling diingat. Yeon cerita naskahnya jadi sekitar waktu tragedi kapal Sewol, dan kalau penonton membaca film ini sebagai kisah pemerintah yang menyuruh rakyat diam di tempat, itu karena ketakutan semacam itu memang dirasakan banyak orang Korea.
Setelahnya, di musim dingin tahun yang sama Gong Yoo juga meledak lewat Goblin, sampai dia jadi aktor yang main zombi dan goblin dalam setahun. Di Amerika, James Wan ikut memproduseri remake berjudul Last Train to New York. Pintu yang dibuka film ini berlanjut ke Kingdom dan All of Us Are Dead, dan membuktikan film genre Korea bisa laku di dunia lima tahun sebelum Squid Game bikin semua orang sadar. Yeon sendiri balik lagi ke panggung global lewat Hellbound. Sebagai film bencana berlatar Busan yang tembus sepuluh juta penonton, film ini juga sering disebut penerus Haeundae.