jeomjip (점집과 사주)
Tempat buat baca masa depan dari tahun, bulan, tanggal, dan jam lahirmu. Orang datang bukan karena percaya banget, tapi karena sebelum ambil keputusan besar pengin nanya ke seseorang sekali aja.
Saju artinya 'empat pilar' dan palja 'delapan huruf'. Ubah tahun, bulan, tanggal, dan jam lahirmu masing-masing jadi dua huruf siklus, jadilah empat pilar berisi delapan huruf. Dalam saju, tahun berganti di ipchun, awal musim semi, bukan di Seollal, jadi yang lahir Januari atau Februari kadang baru sadar di sini kalau shio mereka beda dari yang selama ini dikira. Makanya pertanyaan pertama peramal hampir selalu: 'Kamu lahir jam berapa?'
Papan namanya juga ada cara bacanya. Tempat bernama 'sekian cheolhakgwan', harfiahnya 'balai filsafat', sama sekali nggak ada hubungannya sama jurusan filsafat, itu tempat baca saju. Toko 'tarot' cuma tarot, sedangkan 'saju café' jualan minuman dan punya beberapa pembaca yang bagi-bagi tarot, saju, sampai ramalan roh. Kafe tarot yang bertebaran di sekitar kampus juga bagian dari tren ini, khas banget republik kafe. Kalau ramalan dari dukun yang bilang dirinya dirasuki dewa, itu lebih masuk ke dunia musok.
Pertanyaan nomor satu soal cinta, lalu uang, anak, karier, dan kesehatan. Gunghap, yang membandingkan saju dua orang, jadi menu wajib buat urusan kencan buta atau calon pasangan. Kalau kamu minta peramal menebak kejadian tertentu, banyak yang bakal bilang 'itu nggak kelihatan di saju' terus nyodorin kartu tarot.
Musim ramainya pergantian tahun, pas reservasi ramalan Tahun Baru numpuk, dan antrean memanjang lagi menjelang Suneung dan musim masuk kampus. Harganya mulai dari beberapa ribu won di tenda pinggir jalan sampai lebih dari 100.000 won di 'balai filsafat' kelas atas. Tempat yang sama juga melayani pemberian nama bayi yang menambal unsur yang kurang di saju, dan memilih tanggal baik, bahkan buat jadwal operasi caesar. Aliran teori nama begitu banyak sampai ada candaan: tiap pindah tempat, kamu disuruh ganti nama lagi.
Buat anak muda Korea usia 20-an, saju ada di laci yang sama dengan MBTI. Mau empat huruf atau delapan huruf, dua-duanya cara seru buat buka obrolan soal siapa dirimu. Banyak yang skeptis soal dasar ilmiahnya, dan sering dikutip penelitian yang mengikuti orang-orang yang lahir di waktu yang sama selama bertahun-tahun tanpa nemu pola apa pun. Tapi orang tetap datang. Bukan buat dapat tebakan yang tepat, tapi buat merapikan rasa cemas jadi kata-kata sekali saja. Rasanya mirip dengan menafsirkan mimpi kehamilan atau berdoa sebelum ujian.