
Son Heung-min
Pemain Asia pertama yang meraih Sepatu Emas Liga Primer dan kapten timnas Korea Selatan selama bertahun-tahun. Kalau orang luar ditanya nama orang Korea, namanya hampir pasti muncul duluan.
Lahir di Chuncheon tahun 1992, kisahnya dimulai dari sang ayah. Son Woong-jung dulunya pemain pro yang kariernya berakhir cepat karena cedera tendon Achilles, dan dia bertekad anaknya harus punya skill olah bola yang dulu nggak dia punya. Jadi Heung-min cuma dilatih kontrol bola, bahkan umpan pun nggak diajarkan sampai bola benar-benar nurut. Tumbuh lewat latihan dasar empat mata dengan ayahnya, bukan lewat sistem sepak bola sekolah Korea yang terobsesi piala, selalu disebut sebagai kunci kariernya. Dia sempat masuk SMA Dongbuk yang terkenal jago bola, keluar sekitar tiga bulan kemudian, lalu berangkat ke akademi Hamburg di Jerman.
Musim gugur 2010, di umur 18, dia langsung cetak gol di debut Bundesliga. Ruud van Nistelrooy, senior paling tua di tim, sampai jadi mentornya karena katanya Son mengingatkan dia pada dirinya waktu muda. Son belajar bahasa Jerman salah satunya dari nonton SpongeBob, dan sekarang lancar pindah-pindah antara Korea, Jerman, dan Inggris. Di Jerman dia dijuluki Sonsational, di Inggris jadi Son-shine. Setelah mampir di Leverkusen, dia gabung Tottenham tahun 2015 dengan biaya transfer termahal untuk pemain Asia saat itu.
Sepuluh tahun di Spurs isinya rekor semua. Tahun 2019 lawan Burnley, dia lari sendirian sekitar 70 meter dari wilayahnya sendiri lalu cetak gol, dan menang FIFA Puskás Award; dia sendiri bilang gol itu nggak mungkin bisa diulang. Musim 2021-22 dia bikin 23 gol liga tanpa satu pun penalti dan berbagi Sepatu Emas, pertama kalinya untuk pemain Asia. 47 gol hasil kombinasinya dengan Harry Kane adalah rekor duet terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer. Fans manggil dia Sonny dan nyanyiin "Nice One Sonny" di tribun, sementara selebrasi kamera dua tangan yang dia mulai musim 2020-21 sekarang jadi ciri khasnya.
Fans Korea punya julukan sendiri. Dia sering banget bobol gawang Dortmund yang simbolnya lebah, makanya dijuluki Peternak Lebah, dan kutukannya nular ke tim kuning lain kayak Watford si Tawon dan Brentford si Lebah. Bertahun-tahun dia juga diledek nggak punya trofi, sampai akhirnya sebagai kapten dia bawa Spurs juara Liga Europa 2024-25. Tahun 2025 dia pindah ke LAFC di MLS.
Buat cowok Korea, wajib militer bisa bikin karier berantakan. Setelah beberapa kesempatan lepas karena klub menolak melepasnya atau tim tersingkir, dia beresin urusan ini di Asian Games 2018: Korea menang 2-1 atas Jepang lewat perpanjangan waktu di final, dan dua golnya lahir dari assist Son. Malam itu "Son Heung-min wamil" langsung trending di Twitter Korea. Tahun 2020 dia ikut latihan dasar tiga minggu di Korps Marinir di Jeju, kena semua 10 tembakan, dan lulus peringkat satu dari 157 peserta sampai dapat penghargaan.
Dia pemegang rekor caps terbanyak di timnas. Dia tumbuh di generasi yang dibentuk oleh musim panas 2002, waktu umurnya sepuluh tahun, dan di Piala Dunia Qatar 2022 dia main pakai masker setelah tulang wajahnya retak beberapa minggu sebelumnya, ikut membawa Korea ke babak 16 besar di luar kandang. Turnamen yang sama dibuka dengan Jung Kook BTS di panggung, momen yang dikenang sebagai K-pop di pembukaan Piala Dunia. Tiap kali dia cetak gol, kolom komentar Korea langsung penuh kata gukppong, dan dia juga biasanya alasan orang Korea begadang nonton bareng, khas cara orang Korea menonton olahraga.
Di survei soal orang Korea paling terkenal, namanya sejajar dengan PSY, BTS, dan BLACKPINK, dan di dunia olahraga dia sepaket dengan Kim Yuna sebagai ikon nasional. Fans juga suka banget waktu dia ditanya mau ngajak makan malam siapa, dan jawabannya Tom Holland, Michael Jordan, dan Faker. Selama musim kompetisi dia terkenal tidur jam 9 atau 10 malam, sampai rekan setim di acara makan bareng suka ngeledek, "Sonny, udah waktunya tidur."
Ketenaran juga bawa sisi gelap. Tahun 2025 terungkap bahwa mantan pasangannya dan seorang kaki tangan mencoba memerasnya dengan klaim palsu. Pihak Son langsung melapor ke polisi, keduanya ditahan, dan pengadilan menjatuhkan hukuman empat dan dua tahun penjara, yang dikuatkan di tingkat banding tahun 2026. Kronologinya ada di Upaya pemerasan.