aegukga (애국가)
Lagu kebangsaan Korea Selatan, yang dibuka dengan Laut Timur dan Gunung Baekdu. Namanya berarti 'lagu cinta tanah air', dan hampir semua orang Korea hafal bait pertamanya bahkan sambil setengah tidur.
Fakta seru: nggak ada undang-undang yang menetapkannya sebagai lagu kebangsaan. Statusnya lahir dari kebiasaan, dan beberapa aturan soal upacara bendera cuma menganggap lagu ini pasti diputar. Melodinya yang sekarang dibuat komposer Ahn Eak-tai, dan pemerintahan Korea di pengasingan mulai memakainya akhir 1940. Waktu Republik berdiri tahun 1948, lagu ini otomatis jadi lagu negara, dan tahun 2005 keluarga sang komposer menyerahkan hak ciptanya ke negara.
Siapa penulis liriknya jadi perdebatan panjang. Kandidat terkuat adalah Yun Chi-ho, yang buku himne tahun 1908-nya memuat teks hampir sama; masalahnya, dia belakangan berpihak ke rezim kolonial Jepang. Pendukung tokoh kemerdekaan Ahn Chang-ho sempat mendorong versi mereka, tapi buktinya kebanyakan kesaksian yang datang belakangan. Konon Kim Gu menutup debat itu dengan bilang, Gerakan 1 Maret dijalankan dengan taegeukgi, deklarasi, dan lagu ini, jadi kenapa penulisnya dipersoalkan. Bagian reff soal mugunghwa dan 'tiga ribu ri gunung dan sungai yang indah' sudah muncul lebih dulu di lagu yang dimuat koran tahun 1899, nyambung dengan bagaimana mugunghwa jadi bunga nasional tak resmi. Selama masa penjajahan Jepang, lagu ini menyebar terutama lewat komunitas Korea di luar negeri.
Dalam keseharian, ini lagu upacara pagi di lapangan sekolah sambil pakai seragam sekolah, juga lagu apel pagi di barak. Nada tertingginya lumayan tinggi, jadi selama wajib militer orang biasanya nyanyi satu oktaf lebih rendah. Tahun 2014 dinas pendidikan Seoul bikin versi nada rendah buat siswa, dan sempat dikritik karena jadi kurang greget. TV zaman dulu menutup siaran tiap hari dengan lagu ini, dan videonya selalu nyelipin momen olahraga kayak lautan merah Piala Dunia 2002; versi 2019 bahkan menampilkan BTS. Dari situ muncul ledekan 'rating lagu kebangsaan' buat acara yang nggak ditonton siapa pun, andalan tiap ngomongin rating TV.
Di stadion, lagu ini punya panggungnya sendiri. Penyanyi yang membawakannya sebelum pertandingan besar itu semacam pertunjukan tersendiri, makanya selalu kebawa kalau bahas deretan vokalis perempuan. Di Piala Dunia 2006, lagu Korea malah diputar di slot lagu kebangsaan Togo. Karena di Olimpiade lagu ini paling sering terdengar lewat panahan, ada lelucon soal lirik 'Tuhan melindungi' yang bunyinya mirip bow. Ini juga pemanasan buat gaya nonton olahraga ala Korea.
Ada juga ingatan yang berat. Di Gwangju tahun 1980, tentara mulai menembak bersamaan dengan siaran lagu ini, dan warga berkumpul lagi sambil mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu yang sama. Adegan itu penting dalam cerita demokratisasi. Kalau tim gabungan Korea Utara dan Selatan tampil, yang dipakai justru Arirang. Dan iya, di noraebang mana pun keempat baitnya ada.