Rentetan kontroversi label dan kebersihan
Awal 2025, pertanyaan soal diskon satu set hampers ham berkembang jadi kontroversi label asal bahan dan kebersihan festival, dan citra terpercaya pebisnis kuliner Paik Jong-won ikut goyah. Dia dan perusahaannya minta maaf; sebagian kasus masuk penyelidikan, tapi dia sendiri dinyatakan tidak bersalah.
Konteksnya dulu. Paik Jong-won adalah bos Theborn Korea, perusahaan di balik franchise seperti Paik's Coffee dan Hong Kong Banjum. Namanya naik lewat acara varietas siaran online tahun 2015, lalu makin kuat lewat Alley Restaurant, tempat dia menggembleng pemilik warung makan kecil soal kebersihan dan harga. Hampir tiap produk barunya diluncurkan dengan kalimat soal membantu petani dan nelayan Korea. Musim gugur 2024 dia jadi juri acara masak hits Netflix Culinary Class Wars, dan November tahun itu perusahaannya melantai di bursa KOSPI. Jatuhnya justru dimulai di puncak.
Pemicunya video YouTube tanggal 17 Januari 2025. Paik mempromosikan set sembilan kaleng ham mereknya sendiri, Paik's Ham, seharga 28.500 won, katanya diskon 45% dari 51.900 won, sambil bercanda kalau mau kasih ke kenalan minimal tiga set biar nggak malu. Waktunya pas jelang Seollal, musim hampers hari raya. Warganet lalu ngecek situs pembanding harga dan postingan lama, dan ketemu bukti set itu biasanya dijual sekitar 30.000 won. Diskon aslinya jauh lebih kecil, bahkan beredar perbandingan kalau Spam ukuran sama malah lebih murah. Di Korea namanya hampir identik dengan harga worth it, jadi salah hitung ini kerasa banget. Penonton yang pernah melewati skandal iklan terselubung beberapa tahun sebelumnya juga sudah kritis soal promosi di YouTube.
Setelah itu, temuan lama terus digali. Video promosi meal kit yang dibuka dengan omongan bantu petani lokal ternyata menampilkan chicken steak dari ayam Brasil, dan satu-satunya bahan lokal cuma jahe. Bir rasa jeruk ketahuan cuma mengandung 0,032% sari jeruk per kaleng. Pertengahan Maret, foto-foto dari festival daerah yang dikelola perusahaannya viral: jus apel disemprotkan ke daging pakai alat semprot pestisida yang baru dibeli, dan drum berkarat dipakai sebagai alat masak.
Permintaan maaf pertama keluar 13 Maret. Karena dikritik nggak ada langkah konkret, yang kedua menyusul 19 Maret: audit total label asal bahan di toko online, stop produksi Paik's Ham, cek kebersihan peralatan festival, dan dukungan buat pemilik franchise. Opini publik nggak langsung pulih. Menurut laporan yang mengutip data kartu kredit, dalam tiga minggu setelah foto alat semprot itu, omzet harian gerai franchise turun 45,3% di Saemaeul Sikdang, 28,1% di Paik's Coffee, dan 26,0% di Hong Kong Banjum. Sosok yang selama ini tampil sebagai pembela pelaku usaha kecil akhirnya melihat dampaknya jatuh ke para pemilik gerainya sendiri. MBC menunda tanpa batas acara varietasnya, Chef of Antarctica, dan pada 6 Mei Paik mengumumkan berhenti dari semua aktivitas siaran kecuali syuting yang sedang jalan, supaya bisa fokus ke perusahaan.
Jalur hukumnya begini. Juni 2025, badan mutu hasil pertanian nasional melimpahkan satu karyawan dan perusahaan ke kejaksaan soal aturan label asal bahan. November, polisi Seoul memutuskan tidak melimpahkan Paik secara pribadi atas dugaan pelanggaran label pangan, hanya perusahaan dan dua staf. Empat aduan soal sanitasi pangan ditutup di tahap penyelidikan awal. Januari 2026, kejaksaan menyimpulkan tuduhan pemalsuan asal bahan tidak terbukti. Di sisi lain, Juni 2025 seorang anggota parlemen mengajukan revisi UU untuk melindungi pemilik franchise dan menamainya dengan nama kasus ini.
Dua juri Culinary Class Wars akhirnya jalan ke arah berlawanan. Ahn Sung-jae, rekannya di meja juri, makin sibuk berkat hype musim kedua, sementara comeback Paik lewat Chef of Antarctica yang baru tayang 2026 disambut dingin. Kasus ini jadi contoh klasik: kalau kepercayaan sebagai figur TV dan tanggung jawab sebagai CEO numpuk di satu orang, retak di satu sisi cepat banget merambat ke sisi lain.