Saat Portal Jadi Media
Orang Korea nggak baca berita di situs koran, tapi di halaman depan portal. Begitu kuasa atas judul dan posisi berita pindah dari media ke portal, berita seleb langsung berubah jadi perang klik.
Mulai dari hal yang paling bikin bingung orang luar: Naver News nggak punya wartawan sendiri. Dia cuma agregator yang mengumpulkan berita dari ratusan media lalu menampilkannya di satu layar. Layanan ini mulai tahun 2000 dengan menggabungkan berita dari 15 koran dan kantor berita, populer karena kurasi breaking news yang cepat, dan di Juni 2005 sudah menyalip Daum News dalam jumlah pengunjung. Sekitar waktu yang sama, portal mulai memajang silgeom, peringkat kata yang paling banyak dicari saat itu juga. Orang berhenti buka koran pagi-pagi dan langsung buka tab portal, dan jadi hal biasa kalau satu berita dapat komentar lebih banyak di portal daripada di situs medianya sendiri.
Masalah utamanya adalah perpindahan kuasa. Koran yang dulu menentukan apa yang masuk halaman depan dan judulnya apa, sekarang malah nunggu keputusan tim editor portal. Menjelang akhir 2000-an, media protes bahwa portal secara de facto sudah jadi editor dan harus diatur seperti media. Tahun 2009 Naver meluncurkan Newscast: kotak berita utama dikembalikan ke masing-masing media, dan klik diarahkan ke situs mereka. Hasilnya malah kebalikannya. Media-media berlomba bikin judul clickbait demi satu klik tambahan, bahkan ada cerita media yang hampir tutup bisa hidup lagi cuma dari trafik Newscast. Tahun 2013 Naver ganti ke Newsstand yang cuma menampilkan logo media, dan klik ke situs media anjlok.
Berita hiburan jadi pusat badainya. Begitu nama seseorang naik ke peringkat pencarian, media online langsung merilis artikel yang hampir sama persis dalam hitungan menit, cuma judulnya yang diganti. Memposting ulang konten yang sama demi eksposur pencarian ini di Korea disebut "abusing". Artikel dengan byline "tim isu online" bukan nama wartawan, atau artikel yang cuma menyalin satu postingan forum, bertebaran di mana-mana, dan kebiasaan ini meninggalkan istilah gisa badasseugi, kira-kira "nyalin berita". Sasarannya kebanyakan seleb. Begitu rumor yang belum jelas pakai kostum berita dan nongol di halaman depan, kolom komentar di bawahnya berubah jadi lapangan akpeul, alias komentar jahat.
Portal pelan-pelan bikin perubahan. Tahun 2015 Naver memisahkan hiburan jadi seksi sendiri bernuansa pink, dan sejak 2016 menampilkan jenis kelamin dan usia para komentator. Analisis sebuah stasiun TV tahun 2020 menemukan 10% komentator paling aktif menulis sekitar 70% dari semua komentar. Titik baliknya datang setelah kepergian Sulli. Daum duluan menutup komentar di berita hiburan, lalu Naver menyusul di Maret 2020, ceritanya lanjut di Komentar berita hiburan ditutup. Beberapa media sempat main akal-akalan dengan menaruh berita seleb di rubrik sosial supaya komentarnya tetap buka. Di tahun yang sama komentar berita olahraga juga ditutup, dan ranking berita paling banyak dibaca pun dihapus.
Umur peringkat pencarian juga nggak panjang lagi. Kritik soal perusahaan yang "beli" posisi lewat event kuis dan kampanye yang menggoyang peringkat terus menumpuk, sampai Daum mencabutnya di Februari 2020 dan Naver di Februari 2021. Lanjutannya ada di Saat peringkat real-time menghilang.
Tapi bukan berarti era portal sudah tamat. Sebagian besar berita Korea masih dibaca di portal. Cuma perhatian orang makin pindah ke video, dan cara mengejar klik ikut berubah bentuk jadi Berita pindah ke YouTube dan kanal-kanal cyber wrecker. Kalau kamu pernah heran kenapa fans Korea baca berita seleb dengan setengah curiga, Percaya pada media bakal melengkapi gambarnya.