Kolom komentar berita hiburan ditutup
Antara akhir 2019 dan awal 2020, Daum lalu Naver menghapus kolom komentar di bawah berita hiburan. Ini pertama kalinya dua portal terbesar Korea mengakui terang-terangan bahwa serangan online bisa menghancurkan seseorang.
Biar paham kenapa ini penting, kamu perlu tahu cara orang Korea baca berita. Kebanyakan nggak buka situs media, tapi baca semuanya di portal. Karena portal jadi media de facto, komentar di bawah artikel sering lebih banyak dibaca daripada artikelnya sendiri. Kanal hiburan adalah tempat budaya komentar itu paling toxic. Komentar dengan like terbanyak naik ke paling atas, dan satu kalimat bisa kelihatan kayak suara seluruh publik. Tahun 2010, perburuan penyihir terhadap Tablo sudah menunjukkan sejauh apa massa online bisa menekan satu orang, tapi sistemnya tetap sama.
Titik baliknya 14 Oktober 2019, ketika Sulli, aktris dan mantan member f(x), meninggal di usia 25 tahun. Bertahun-tahun dia dibanjiri akpeul soal cara berpakaian dan setiap postingan Instagram-nya, dan di tahun yang sama dia tampil di acara TV yang temanya membaca komentar jahat, di mana dia cerita pernah mengalami gangguan panik dan fobia sosial. Komentar jahat nggak pernah dinyatakan resmi sebagai penyebab, tapi kemarahan publik langsung mengarah ke kolom komentar dan artikel clickbait yang memanaskannya. Waktu komentar dan artikel lama mulai dihapus diam-diam, netizen ramai bikin tangkapan layar sebagai bukti. Sekitar sebulan kemudian, 24 November, sahabatnya Goo Hara juga meninggal. Kepergian keduanya meninggalkan pertanyaan berat buat Korea, yang terangkum dalam apa yang berubah setelah Sulli.
Daum bergerak duluan. Portal yang dikelola Kakao, perusahaan di balik KakaoTalk, ini menutup komentar berita hiburan di akhir Oktober 2019, lalu 20 Februari 2020 ikut menghapus peringkat pencarian real-time. Peringkat tempat nama seleb dan rumor naik turun itu dianggap bagian dari masalah yang sama. Netizen mulai nyindir "Naver belajar dong dari Kakao", dan tekanan pindah ke Naver.
Naver awalnya memasang CleanBot, filter AI yang menyembunyikan komentar kasar, di kanal hiburannya. Lalu 5 Maret 2020 mereka mengumumkan paket sekaligus: komentar berita hiburan ditutup sementara, pencarian terkait dihapus, dan tren pencarian dihentikan selama pemilu legislatif. Mulai 19 Maret, nickname dan seluruh riwayat komentar setiap pengguna jadi publik, jadi makin susah sembunyi di balik anonimitas. Agustus tahun itu, setelah banyak atlet profesional jadi sasaran, komentar berita olahraga juga ditutup, dan 25 Februari 2021 Naver resmi mengakhiri layanan pencarian real-time.
Berhasil nggak? Pendapatnya terbelah. Beberapa media nyari celah dengan menaruh berita seleb di kanal sosial atau gaya hidup yang kolom komentarnya masih buka, dan klip video acara hiburan masih bisa dikomentari. Di parlemen sempat muncul wacana "UU Sulli" untuk menghukum komentar jahat, tapi sistem nama asli di internet sudah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi, jadi susah dihidupkan lagi. Analisis sebuah stasiun TV di akhir 2020 menemukan 10 persen "komentator berat" menulis 70 persen seluruh komentar portal, padahal jumlahnya cuma sekitar 0,3 persen populasi. Yang kelihatan kayak opini publik ternyata sering cuma kelompok kecil yang berisik banget.
Dan komentar jahat nggak hilang, cuma pindah tempat. YouTube dan forum online mengisi ruang yang ditinggalkan portal, dan kanal yang cari views dari drama seleb, yang disebut cyber wrecker, jadi masalah besar berikutnya sampai akhirnya berujung pada vonis terhadap cyber wrecker. Meski begitu, penutupan komentar berita hiburan tetap dikenang sebagai momen langka ketika portal sendiri mengubah hubungan antara berita dan pembacanya.