decodeK

Perburuan penyihir terhadap Tablo

Kejadian2010-05InternetPerundungan massalPeradilan

Sebuah komunitas online hampir dua tahun ngotot bilang ijazah Stanford seorang rapper itu palsu, sampai keluarganya ikut jadi korban. Ijazahnya asli, dan para dalangnya dinyatakan bersalah.

Semuanya dimulai 11 Mei 2010 lewat sebuah kafe Naver bernama "Kami Menuntut Kebenaran dari Tablo", disingkat Tajinyo. Targetnya Tablo dari Epik High, yang CV-nya (S1 dan S2 Sastra Inggris di Stanford dalam tiga setengah tahun) dianggap terlalu sempurna buat jadi nyata. Timing-nya juga pas banget. Beberapa tahun sebelumnya ada skandal kurator dengan gelar Yale palsu, jadi publik Korea lagi curiga sama semua ijazah luar negeri, ditambah obsesi soal hakbeol alias gengsi almamater. Kafe ini dipimpin user yang tinggal di Amerika dengan ID "whatbecomes", yang udah bertahun-tahun ninggalin komentar jahat di artikel soal Tablo.

Polanya sekarang kerasa familiar banget. Bantahan dihapus, yang ragu ditendang, dan yang tersisa saling nyuapin teori makin gila sampai anggotanya sempat tembus ratusan ribu. Waktu Tablo upload transkrip nilainya, beberapa nilai B dan satu mata kuliah teknik malah dijadikan "bukti" pemalsuan. Cerita lebay yang dia bawain di acara variety buat lucu-lucuan dipotong jadi meme "pembohong kronis".

Oktober 2010, program dokumenter MBC terbang bareng dia ke Stanford. Mentornya, penulis Tobias Wolff, mengonfirmasi Tablo memang muridnya, dan kampus memverifikasi gelarnya. Satu kalimat Tablo dari episode itu masih sering dikutip: masalahnya bukan kalian nggak percaya dokumen, tapi kalian nggak percaya aku. Catatan imigrasi juga bersih. Tapi Tajinyo tetap ngeles, katanya staf kampus disuap atau ijazahnya palsu kelas kakap. Lalu Naver menutup kafe itu karena admin-nya daftar pakai nomor KTP orang lain. Kafe tiruan langsung bermunculan.

Dampaknya ke keluarga parah banget. Kakak Tablo kehilangan pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di TV setelah dibanjiri telepon komplain. Ibunya menutup salon. Ayahnya, yang lagi pulih dari kanker hati, tumbang karena stres di 2011 dan meninggal Maret 2012, sementara beredar postingan yang bilang ijazah Universitas Nasional Seoul milik sang ayah juga palsu, bahkan berita dukanya pun diejek.

Penyidikannya nggak biasa. Kasus pencemaran nama baik online ini ditangani langsung oleh kejaksaan dari awal sampai akhir, bukan polisi, Jaksa Agung memerintahkan penyelidikan tegas di depan parlemen, dan laporannya sampai ke kantor presiden. Para terdakwa minta dokumen yang disahkan lewat pengadilan AS, jadi vonisnya molor dua kali. Mei 2012 Tablo mencabut tuntutan ke dua orang yang nggak menyerang keluarganya, dengan alasan yang dia mau bukan hukuman tapi pernyataan resmi soal kebenaran. Juli, tiga orang inti divonis 10 bulan penjara dan enam lainnya hukuman percobaan. Di tingkat banding, pengacara terdakwa sendiri mengakui ijazahnya asli, satu terdakwa disuruh baca dua buku pilihan hakim lalu nulis resensi, dan yang paling ngotot akhirnya kalah di Mahkamah Agung.

Sementara itu karier Tablo mandek total. Banyak agensi menolak, sampai YG Entertainment dengar demo-demonya dan mengontraknya, lalu album solo Fever's End rilis 2011. Katanya semua berawal dari telepon Sung Si-kyung yang bilang, udah, diam aja dan tulis lagu sebanyak-banyaknya. Rekan segrupnya, Tukutz dan Mithra Jin, lagi wajib militer jadi nggak bisa mendampingi.

Kasus ini sampai sekarang jadi contoh paling klasik di Korea soal gimana "kecurigaan" online berubah jadi bola salju: komunitas yang jadi echo chamber, dan versi awal gaya cyber wrecker sebelum istilahnya ada. Posisinya ada di awal rangkaian yang nyambung ke ditutupnya kolom komentar berita hiburan dan vonis untuk cyber wrecker. Sekarang Epik High malah bisa bercanda soal ini. Di sebuah talk show YouTube tahun 2023, Tablo nebak minimal 30% orang Korea dulu percaya, dan Tukutz nyeletuk datar kalau itu "kecurigaan yang wajar".