CJ ENM Studios
Unit studio yang mengumpulkan rumah-rumah produksi film dan drama milik CJ ENM ke bawah satu atap. Di grup yang sudah punya pendanaan, distribusi, channel, sampai bioskop, bagian inilah yang benar-benar bikin kontennya.
Daftar rumah produksinya berisi nama-nama besar: Bon Factory, Egg Is Coming, JK Film, Blad Studio, M Makers, Moho Film, Yong Film, dan Manhwa Gajok, antara lain. Saudaranya adalah Studio Dragon. Kalau Studio Dragon itu pabrik drakor, yang ini lebih mirip bengkel film dan serial premium. Ujung-ujungnya, dua-duanya menyalurkan karya ke channel dan jaringan distribusi induknya, CJ ENM.
Akarnya ada di divisi film Cheil Jedang yang lahir tahun 1995 setelah investasi ke DreamWorks. Waktu Samsung membubarkan unit filmnya sendiri pada 1999 akibat krisis moneter Asia, orang-orangnya berkumpul lagi di CJ. Belakangan mereka juga membeli bagian investasi dan produksi Sidus, grup yang dulu menguasai perfilman Korea. Semua pengalaman itu mengalir ke jajaran studio yang sekarang.
Pemain bintangnya JK Film, perusahaan milik sutradara Yoon Je-kyoon yang membuat Haeundae dan Ode to My Father. Film yang kedua tercatat sebagai film Korea pertama yang semua krunya menandatangani kontrak kerja standar. Di industri yang biasa telat bayar, CJ jadi dikenal sebagai salah satu dari sedikit perusahaan yang bayar tepat waktu sesuai kontrak. CJ sudah mendistribusikan tujuh film yang tembus sepuluh juta penonton, seri dengan Disney Korea sebagai yang terbanyak.
Para maestro film Korea juga betah di sini. Parasite karya Bong Joon-ho, karya-karya Park Chan-wook, sampai sutradara laris seperti Ryoo Seung-wan pernah bekerja sama dengan CJ. Makanya orang industri menyebutnya Warner Bros versi Korea.
Tapi bayangannya juga besar. Pegang ide, produksi, investasi, distribusi, plus layar lewat CGV di grup yang sama adalah contoh sempurna integrasi vertikal, dan terus dikritik. Keluhan klasiknya soal borong layar. Waktu Masquerade sudah turun dari jaringan bioskop lain, CGV tetap menayangkannya sampai film itu memecahkan rekor film kolosal Korea dengan penonton terbanyak, dan cerita ini masih sering diungkit. Belakangan juga muncul keluhan bahwa investasi terlalu condong ke sutradara terkenal dan kurang memberi ruang buat pendatang baru.