decodeK

Yunchan Lim

OrangMusik klasikPianoYouTube

Pianis yang menjuarai Van Cliburn Competition di usia delapan belas, juara termuda sepanjang sejarahnya. Satu video Rachmaninoff 3 di babak final bikin musisi klasik dapat perhatian selevel bintang pop.

Lahir tahun 2004 di Siheung, kota di pinggiran Seoul. Di sekitar rumahnya cuma ada satu hagwon, dan itu les piano, jadi ya piano. Katanya dia bahkan nggak tahu ada alat musik lain kayak biola atau flute. Umur enam tahun dia sempat ditolak karena anak cowok seumur itu dianggap belum bisa fokus, baru mulai beneran di umur tujuh. Titik balik pertama: umur delapan dia nonton dokumenter pagi-pagi di TV soal akademi anak berbakat di Seoul Arts Center, dan langsung mutusin harus masuk ke sana. Waktu SD kelas atas, tangan dan badannya yang kecil bikin oktaf dan pedal jadi susah, sampai dia pengin berhenti. Ujung-ujungnya dia malah jadi anak pertama yang dua kali terpilih di program anak berbakat Kumho.

Titik balik kedua adalah gurunya, Son Min-soo. Umur sepuluh dia nemu video Son main Liszt di YouTube dan mikir, aku mau belajar dari orang ini. Umur tiga belas dia beneran ketemu Son di audisi sekolah anak berbakat. Tahun 2019, umur lima belas, dia jadi juara termuda Isang Yun International Music Competition. Lomba ini masuk daftar yang kasih fasilitas dinas pengganti menurut aturan wajib militer Korea, jadi anak SMP ini udah dapat hak dispensasi duluan. Setelah itu dia nggak lanjut SMA dan homeschooling setahun, sengaja keluar dari jalur ipsi, ujian masuk ala Korea.

Tahun 2021 dia pertama kali main Rach 3 bareng Busan Philharmonic. Awalnya dirigennya nolak, bilang orkestranya bukan bahan eksperimen dan minta lagu yang udah teruji. Gurunya yang ngeyakinin, dan katanya dari latihan pertama para pemain udah sadar anak ini beda. Di tahun yang sama dia tur keliling Korea bawain dua belas Transcendental Études karya Liszt.

Cliburn 2022 mundur setahun gara-gara COVID, dan cuma karena itu dia pas umurnya buat ikut. Pas hasil seleksi video nggak kunjung datang, Son ngajak dia makan dan sambil hampir nangis minta maaf karena ngira Lim gagal. Besok paginya Cliburn ngabarin: email kelulusannya ternyata kelewat nggak kekirim. Selama lomba dia pakai 80% waktu latihan buat Mozart, soalnya menurut dia Mozart paling susah. Di semifinal dia mainin dua belas etude Liszt sekaligus, dan begitu Rach 3 di final selesai, para pemain orkestra naruh alat musiknya buat tepuk tangan, sementara ketua juri sekaligus dirigen Marin Alsop ngusap air mata di podium. Hasilnya medali emas dengan suara bulat juri, plus penghargaan penonton dan penghargaan karya pesanan. Juara termuda dalam 60 tahun sejarah lomba, sekaligus orang Korea kedua berturut-turut setelah Yekwon Sunwoo di 2017.

Yang paling heboh justru setelahnya. Video finalnya nangkring di nomor satu trending YouTube dan tembus 17 juta views dalam sekitar sebulan, konserto piano yang kebawa algoritma kayak MV pop. Konferensi persnya juga viral: katanya mimpinya adalah ninggalin semuanya dan tinggal di gunung sama piano, tapi karena itu nggak ada duitnya, ya terpaksa begini, dengan ambisi karier nol koma satu persen. Dia juga nyebut Ureuk, maestro gayageum zaman Silla, sebagai inspirasi terbesarnya, sampai fans gugak ikut heboh.

Setelah teken kontrak sama Decca, album Chopin: Études bikin dia jadi pianis Korea pertama yang menang di Gramophone Awards, langsung dua piala. Dua dari tiga finalis kategori piano adalah albumnya sendiri, dan Chopin ngalahin Liszt cuma beda satu suara, makanya ada judul berita Lim ngalahin Lim. Dia juga orang Korea pertama yang puncakin chart klasik tahunan Billboard. Dia ngikutin gurunya ke New England Conservatory di Boston dan lulus Artist Diploma di sana tahun 2026.

Namanya hampir selalu disebut bareng Cho Seong-jin yang tujuh tahun lebih tua: satu juara Chopin Competition, satu lagi bawa pulang Cliburn. Berkat mereka berdua, Korea makin dikenal sebagai raja kompetisi musik.