Musik klasik, langsung di gedung konser
Konser pemain yang namanya naik lewat kompetisi internasional bisa sold out dalam hitungan menit. Musik klasik udah lama bukan selera minoritas lagi, dan war tiket sekarang mirip banget sama konser idol.
Dua kemenangan yang ngubah suasana. Di Kompetisi Chopin 2015, Cho Seong-jin jadi orang Korea pertama yang juara satu, dan di Kompetisi Van Cliburn 2022, Yunchan Lim yang baru 18 tahun jadi juara termuda sepanjang sejarah. Video Rachmaninoff 3 di final punya Lim tembus 17 juta views YouTube dalam beberapa minggu, dan subscriber kanal resmi kompetisinya loncat dari sekitar 7.000 jadi lebih dari 100.000. Tiba-tiba semua orang ngerti kenapa Korea disebut jagoan kompetisi.
Habis itu mulai rebutan kursi. Resital Cho di Lotte Concert Hall awal 2017 ludes setelah ticketing yang brutal, dan konser dengan orkestra musim panas tahun itu habis dalam lima menit cuma dari presale member. Tahun 2022, konser outdoor di amfiteater Universitas Yonsei jual 7.500 kursi dalam satu menit. Sampai sekarang masih diceritain gimana penonton serempak menghela napas pas nada pertama Clair de Lune dari Debussy dimainkan sebagai encore. Tiket langka bikin calo bermunculan, dan itu nyambung ke dorongan bikin aturan hukum soal tiket calo pakai bot.
Budaya fansnya juga makin mirip idol. Cho punya julukan kayak Chopang (Cho plus Chopin) dan Chotori, dan antrean tanda tangan habis konser bikin lobi penuh. Ada fans yang ngikutin turnya keliling Korea sampai luar negeri. Intinya, energi penonton yang nonton berulang sekarang masuk ke gedung konser.
Para pianisnya sendiri santai aja. Cho pernah bilang dia lebih pengin makin banyak orang suka musik klasik apa adanya, daripada musiknya dipaksa berubah biar disukai semua orang. Les piano waktu kecil itu pengalaman yang umum banget di Korea (salah satu pos di biaya les privat yang terkenal itu), jadi penontonnya lebih luas dari yang kamu kira. Kalau penasaran sama musik tradisional Korea, lanjut ke gugak.