decodeK
Gwangju

Gwangju

TempatKotaSejarah

Kota utama di wilayah barat daya Korea. Peristiwa Mei 1980 bikin nama kota ini jadi salah satu kata paling berat dalam sejarah modern Korea, dan ingatannya terus hidup lewat film dan novel.

Nama aslinya dalam bahasa Korea adalah Bitgoeul, "kampung cahaya", dan huruf Hanja di namanya juga berarti cahaya. Yang bikin bingung, di Provinsi Gyeonggi dekat Seoul ada Gwangju lain yang tulisan Hangul dan latinnya persis sama, tapi pakai huruf yang artinya "luas". Makanya orang Korea bilang "Gwangju Jeolla" biar nggak ketuker. Tahun 1986 kota ini lepas dari Jeolla Selatan jadi kota metropolitan, lalu Juli 2026 bergabung lagi dengan provinsi itu jadi kota istimewa terpadu yang baru. Hasilnya, ia tercatat sebagai kota metropolitan pertama di Korea yang dihapus. Wilayah kota lamanya dihuni sekitar 1,38 juta orang.

Gwangju muncul di hampir setiap titik balik besar sejarah modern Korea. Percikan gerakan pelajar melawan penjajahan Jepang berawal dari sini, dan kota ini juga ikut dalam Revolusi 19 April dan Perjuangan Demokrasi Juni. Tapi yang paling utama tentu Pemberontakan Gwangju Mei 1980. Sepuluh hari ketika warga melawan pasukan darurat militer itu lama nggak boleh dibicarakan, makanya Gwangju jadi nama pertama yang disebut tiap kali orang ngomongin demokratisasi. Lagu dari bulan Mei itu, March for the Beloved, masih dinyanyikan di aksi-aksi sampai sekarang. Film A Taxi Driver menampilkan hari-hari itu dari mata sopir taksi Seoul yang masuk ke kota ini, sementara novel Human Acts karya Han Kang mengikuti seorang anak laki-laki yang gugur di musim semi itu. Waktu Han Kang meraih Nobel Sastra, kisah ini sampai ke pembaca di seluruh dunia.

Tapi kota ini bukan cuma soal sejarah yang berat. Gwangju menyebut dirinya kampung seni, kampung kebenaran, dan kampung rasa. Tepat di pinggir kota berdiri Gunung Mudeungsan setinggi 1.187 meter, yang tiang-tiang batu vulkaniknya bikin ia masuk UNESCO Global Geopark. Di pusat kota lama, gedung tinggi dibatasi ketat supaya semua orang tetap bisa melihat gunungnya. Di Geumnam-ro ada Asia Culture Center, kompleks seni terbesar di Korea, dan kota ini juga tuan rumah Gwangju Biennale. Buat penggemar bisbol, di sinilah markas KIA Tigers, tim raksasa KBO dengan 12 gelar juara. Kalau di drakor kamu dengar logat Jeolla yang kental, besar kemungkinan latarnya di sekitar sini.