
jegichagi (제기차기)
Permainan tradisional menendang jegi, koin yang dibungkus kain dengan rumbai-rumbai, ke udara. Yang paling banyak menendang berturut-turut tanpa menjatuhkannya ke tanah, dia yang menang.
Jegi versi jadul dibuat dari koin yang dibungkus kain lalu diikat benang, sisa kainnya disobek tipis-tipis sampai menjuntai kayak mi. Yang dijual di toko alat tulis sekarang bentuknya badan plastik berisi cakram logam dengan rumbai plastik mengilap. Tiap daerah punya sebutannya sendiri: 'tegi' di Pyongan, 'jjokgi' di Jeju.
Permainan ini paling sering dimainkan di musim dingin sekitar Seollal, jadi masuk paket permainan hari raya bareng main layangan dan yutnori. Di zaman main di gang, nggak ada cara lebih ampuh buat menghangatkan badan. Tapi aslinya susah banget. Kalau koordinasimu pas-pasan, dua tendangan berturut-turut saja sudah prestasi.
Cara mainnya macam-macam. 'Semjegi' yang paling umum, cuma menghitung berapa kali kamu menendang sendirian. Di 'sabangjegi' empat orang berdiri membentuk kotak dan saling mengoper, sedangkan 'jongnojegi' dimainkan dua orang berhadapan dan menendang bergantian; namanya dari para pedagang Jongno di Seoul yang dulu memainkannya di jalan biar lupa dingin. Standarnya pakai satu kaki terus, tapi ganti-ganti kaki juga teknik resmi dengan nama sendiri, 'eojijaji'.
Di variety show juga sering muncul. 2 Days & 1 Night sering memakainya buat game hukuman, dan ada momen legendaris saat Lee Soo-geun yang pede jago jegi memilihnya sendiri sebagai tantangan, lalu gagal total. Squid Game Season 2 mengenalkannya ke dunia sebagai tahap terakhir game kedua.
Fakta seru: di dunia taekwondo, 'jegichagi' itu ejekan. Kalau atlet main aman dan cuma menendang ragu-ragu demi memicu skor pelindung elektronik, pertandingannya disebut begitu. Di China ada permainan mirip pakai bulu, dan di Vietnam menendangnya pakai punggung kaki.